Tinggalkan 4 “JANGAN”

* Jangan katakan, “Ibu, kan, sudah bilang berulang kali kalau masuk kamar ketuk pintu dulu. Enggak sopan, tau!” Katakan, “Kak, Ibu terganggu kalau Kakak masuk kamar Ibu atau kamar siapa pun tanpa mengetuk pintu dulu. Ibu juga kalau masuk kamar kakak ketuk pintu dulu kan? Anak yang sopan selalu menghargai orang lain.”

* Jangan katakan, “Kalau kamu enggak selesai pakaian dalam waktu 5 menit lagi, ibu tinggal ya.” Katakan, “Kita harus cepat berangkat nih soalnya Eyang sudah lama nunggu. Kamu bisa berpakaian cepat dalam waktu 5 menit? Ibu tunggu ya atau Kakak butuh bantuan Ibu?”

* Jangan katakan, “Bersihkan kamarmu sekarang!”, tapi katakan, “Kamar ini perlu dibersihkan. Kakak mau membereskan buku-buku atau tempat tidur dulu?”

* Jangan katakan, “Tadi ibu kan sudah bilang kamu enggak boleh lari-lari di supermarket. Dasar bandel!” Lebih baik katakan, “Ibu tidak suka Kakak lari-lari karena mengganggu Ibu dan pengunjung lain yang juga berbelanja. Kakak boleh pilih, kamu Ibu pulangkan ke rumah dan berarti kita enggak jadi belanja, atau kamu boleh menemani Ibu belanja tapi tidak lari-lari.”

 

Jangan mencemooh anak

Tidak semua nama julukan bernada positif bahkan ada yang diberikan dengan tujuan untuk mencemooh. Seperti, anak yang kurus lantas dipanggil Cacing, kulit si kecil yang berwarna gelap diberi julukan “Si Blacky”, rambut anak yang keriting diberi nama Si Kribo atau Brekele. Tidak jarang, pula yang berunsur SARA. Anak berhidung supermancung mendapat julukan “Si Arab”, “Cina” untuk Si Sipit, dan “Si Batak” karena asalnya dari Medan. Anak-anak pun kerap dipanggil atas nama orangtuanya. Misal, nama aslinya Iksan tapi dipanggil Saidi karena itu nama ayahnya.

 

Apakah nama julukan seperti itu bisa memengaruhi tumbuh kembang anak? Jawabnya tergantung pada karakter anak. Ada anak yang tetap enjoy meski mendapat julukan buruk dari temannya, tapi ada juga yang tersinggung (biasanya yang berkarakter pemalu dan sensitif). Nah, yang perlu diwaspadai tentu anak yang tidak menerima julukan yang diberikan kepadanya. Kalau terus-menerus diledeki, konsep dirinya bisa menjadi negatif. Ia merasa sebagai anak tak berguna dan akhirnya menarik diri dari lingkungan. Prestasi belajarnya menjadi tidak optimal dan tidak menutup kemungkinan ia dendam sehingga sering ajang saling ledek berbuah konflik yang berujung perkelahian.

 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua saat anak menjadi korban “julukan”:

Lihat bagaimana reaksi anak mendapat nama julukan tadi. Tersinggung, biasa saja, atau justru senang. Masing-masing reaksi membutuhkan penanganan tersendiri.

Jika anak merasa terganggu, cobalah berikan solusi dengan berperilaku cuek. Respons berlebihan seperti marah kadang membuat orang semakin senang untuk meledek. Dengan berperilaku cuek, si peledek akan bosan sendiri dan menghentikan ledekannya.

Coba ajari dia agar bersikap asertif dengan meminta anak mengungkapkan perasaan ketersinggungannya misal, “Aku enggak suka kalau kamu memanggil aku Si Gajah!”

Tanamkan agar anak tidak meledek anak lain. Siapa tahu di diledek karena dia sendiri senang meledek orang lain. Bila ia tidak bersedia diledek, minta ia untuk menghindari kebiasaan itu juga.

Jadilah teladan yang baik. Jangan memberi nama “baru” pada tetangga. Contoh Pak Darsin dibilang Pak Kentung karena perutnya yang buncit.

 

BEDA LABEL, BEDA JULUKAN

Memang ada sedikit kemiripan antara label dan nama julukan. Keduanya sama-sama merupakan penilaian seseorang kepada orang lain. Bedanya julukan adalah memberi nama lain selain nama aslinya sebagai kehormatan ataupun ledekan. Posisi pemberi nama julukan juga umumnya sejajar. Label umumnya diberikan oleh orang-orang “di atas” anak seperti orangtua, guru, dan lain-lain dan berisi kata sifat yang menggambarkan perilaku anak. Contoh, kalau anak tidak bisa menguasai pelajaran dengan cepat langsung dilabel sebagai anak bodoh, anak yang memecahkan piring dicap anak nakal, dan sebagainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s