Lampu sein

Lampu sein atau dalam bahasa Inggris disebut turn signals/directional signals yang lazim terdapat pada kendaraan ternyata mengadopsi dari sistem sinyal kereta api atau biasa disebut semaphore.Semaphore berfungsi untuk memberitahu masinis KA perihal kondisi “lalu lintas” rel yang akan dilewati. Semaphore mendapat paten tahun 1840 atas nama Joseph James Steven dan menjadi standar bagi sistem lalu lintas KA.

Semaphore berbentuk palang kayu/besi dan dicat dengan warna2 khusus. Gerakannya diatur secara mekanis oleh serangkaian tuas dan kabel baja sehingga posisi palang dapat bergerak dalam sudut tertentu. Sistem ini juga sebetulnya terinspirasi oleh semaphore bendera yang lazim digunakan olah angkatan laut mulai abad ke 19.

Semaphore kemudian diterapkan pada kendaran (mobil) mulai tahun 1900 dengan nama Trafficator. Prinsip kerjanya ketika mobil akan berbelok, maka tuas muncul dari bodi mobil untuk memberitahu pengendara di belakang/didepannya. Trafficator umumnya terletak pada bodi mobil bagian atas, tepat di belakang pintu depan atau pada bagian pilar B, meski ada beberapa produsen mobil yang memasangnya pada pilar A.

Tahun 1908, Alfredo Barrachini menambahkan lampu pada badan tuas tersebut, agar terlihat pula di waktu malam. Awalnya sistem ini digerakkan secara mekanis/pneumatik, baru kemudian tahun 1918, Naillik Motor Signal Co. di Boston menambahkan motor listrik pada trafficator, sehingga pengemudi tinggal menekan tombol untuk mengeluarkan “batang” trafficator tersebut ketika akan berbelok.

Sistem ini bertahan sampai tahun 1950-an, meski pada tahun 1938 telah dipatenkan tanda berbelok yang lebih modern berupa lampu dan tidak berkedip seperti halnya lampu sein modern. Baru pada tahun 1960 peraturan jalan raya di Amerika mengharuskan bahwa lampu sein harus berkedip dengan tingkat kedipan 60-120 kali per menit dan tuas pengaktif lampu sein harus dapat kembali secara otomatis ketika posisi setir telah kembali lurus. Bahkan peraturan internasional mengharuskan adanya tanda audio berupa bunyi “tik-tok” dan tanda visual pada panel instrumen ketika lampu sein dihidupkan.

Sebelumnya meski telah berkedip, namun lampu sein masih berwarna bening, dan tahun 1963 muncul peraturan bahwa mika/lensa lampu sein harus berwarna jingga. Peraturan ini awalnya diterapkan di Amerika (kecuali Amerika Utara dimana lampu sein boleh berwarna merah/jingga) dan akhirnya diterapkan oleh produsen mobil di seluruh dunia. Bentuk modern dari trafficator saat ini kembali digunakan oleh para produsen mobil yaitu dengan menempatkan lampu sein tambahan yang terletak pada rumah kaca spion. Tujuannya adalah memperjelas pengguna jalan lainnya ketika lampu sein dihidupkan.

Studi NHTSA (National Highway Traffic Safety Administration) tahun 2008 menunjukkan bahwa tingkat respon pengendara meningkat 28% ketika melihat lampu sein berwarna jingga ketimbang lampu sein berwarna merah. Kemudian beberapa penelitian tahun 2009 menunjukkan bahwa lampu sein dengan mika bening dan bola lampu jingga kurang menarik perhatian penegemudi pada siang hari ketimbang lampu sein dengan mika berwarna jingga dan bola lampu bening.

sumber tulisan, foto dan illustrasi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Trafficator

http://en.wikipedia.org/wiki/Railway_semaphore_signal

http://en.wikipedia.org/wiki/Turn_signal#Turn_signals

http://en.wikipedia.org/wiki/Flag_semaphore

http://en.wikipedia.org/wiki/Wing_mirror

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s