Kehidupan yang normal itu tidak ada

Kalimat ini gue temuin ada di halaman pertama sebuah novel yang tadi pagi mau gue baca, karya Richard Farrel. Kalimat pembuka itu lengkapnya:

Kehidupan yang normal itu tidak ada.

Yang ada hanya kehidupan itu saja. Sekarang selesaikan.

Simpel…tapi lumayan menohok untuk direnungkan. Terkadang hal yang sederhana, bisa membuat kita memiliki pemikiran liar dan berimajinasi liar, tapi jangan sampai berhalusinasi liar 😀

Dengan status gue sebagai Single Parent (udah jd veteran inih, klo kerjaan katanya udah masuk kelas pro #ngok), gue sering denger keluhan dari temen seperjuangan yang isinya ga jauh beda dan kurang lebih isinya : “Aku pengen balik ke kehidupan yang normal.” Ya…normal, kehidupan normal…

Gue sering tercenung menghadapi pernyataan seperti itu. Sebenernya normal dan tidak normal itu apa sih? Dan siapa juga yang mengkategorikan bahwa ada kehidupan yang normal dan ada kehidupan yang tidak normal.

Sedari kecil kita sering mendapatkan pertanyaan dan soal-soal di mata pelajaran, tentang bentuk keluarga ideal itu seperti apa. Yang pada akhirnya itu menjadi sebuah bentuk imajiner di mata masyarakat bahwa kehidupan yang normal adalah menikah, memiliki istri atau suami dan memiliki anak. Itu menjadi patokan bahwa suatu kehidupan dianggap normal.

Lalu…ketika semua berjalan dan ada ketidak sesuaian, baik itu disadari maupun tidak disadari, apakah itu sudah masuk ke kategri kehidupan yang tidak normal? Di sini maksudnya adalah, ketika Tuhan menginginkan pasangan kita terlebih dahulu menghadap-Nya atau mungkin kita berpisah karena adanya hal-hal yang sudah tidak bisa disepakati, apakah itu juga termasuk tidak normal? Lalu bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak menikah, apakah itu juga masuk kategori tidak normal?

Bagi gue…itu semua normal kok, itu semua bagian dari kehidupan yang siap tidak siap, mau tidak mau bisa terjadi pada siapa saja dan itupun masuk dalam kategori normal. Karena…terkadang hidup tidak menyisakan banyak pilihan. Yang terbaik adalah menjalankan semua yang sudah menjadi ketetapanNya dengan tulus dan ikhlas. Karena dengan membuka peluang untuk mengeluh tentang kehidupan, sama saja dengan kita sudah tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s