Mengabdi

Mengabdi dan Sing Terimo…

Ya..itu adalah pesan dari eyangku, “Mba, kalau kamu nanti menikah jadilah istri yang mengabdi dan sing terimo sama suamimu.”

Ketika aku menikah…sulit bagiku untuk bisa memahami kata ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Karena kata ‘mengabdi’ terkesan aku tidak bisa mengerjakan apa2 yang menjadi keinginanku dan hanya bertekuk lutut depan suami. Apalagi memahami kata ‘sing terimo’, seolah2 itu aku harus terima nasib klo suami tuh begitu aja…Akhirnya…aku berproses pada situasi, aku berpisah.

Dalam proses perjalanan hidup aku sebelum menikah, eyang pun pernah berpesan, “Mba, jadi perempuan harus pinter, bisa kerja dan mengejar karir tapi jangan pernah melupakan kodrat sebagai wanita dalam rumah tangga. Seperti masak, bersih-bersih dan ngurus anak.”

Kebayang kan…pesan seperti itu disampaikan oleh eyang pada saat aku masih SMA. Di mana aku masih memiliki sedikit pemahaman dalam hal itu. Dan memang…eyang terus dan terus mendidik aku untuk mau belajar masak, mengenal dan membuat jamu dan urusan rumah tangga lainnya. Yang menurut aku pada saat itu semacam beban yang aku harus jalanin.

Semua berproses…dan aku merasakan banyak manfaat dari apa yang eyang ajarkan. Mungkin tidak banyak yang percaya kalau melihat penampilan dan gayaku yang seperti ini, tetapi aku sedikitnya bisa masak dan sangat kolot masalah pengobatan. Karena aku diajarkan oleh eyang untuk tidak banyak mengkonsumsi obat-obatan yang banyak mengandung bahan kimia.

Lalu…selama bertahun-tahun prosespun membuat aku melek dengan pemahaman ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Walaupun mungkin, setiap orang dengan prosesnya masing-masing akan menemukan pemahaman yang berbeda dan tidak bisa ada yang saling membenarkan atau saling menyalahkan… Dan proses juga yang menyadarkan aku tentang pemahaman pasangan.

Mengabdi…aku akan mengabdi pada pasanganku kelak dengan caraku sendiri. Karena mengabdi adalah bentuk pembuktian bahwa aku mencintai pasanganku.

Sing Terimo…maka aku akan menerima seutuhnya pasanganku, entah apa itu kata orang tentang baik dan buruknya diri pasanganku, maka seutuhnya baik perwujudan tak kasat mata maupun perwujudan kasat mata, sepenuh hati aku akan menerimanya.

Ya…sampai titik saat ini, aku sudah sangat siap untuk ‘Mengabdi’ dan ‘Sing Terimo’ pada (siapapun) pasanganku kelak. Sebuah pengaharapan padanya, semoga…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s