Berpulang ke Rumah

Jadi…rumah ini hidup dalam ketidakpercayaan…

Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki ke tempat, yang disebut rumah. Tidak ada perubahan sedikitpun, hingga hawa ketidakpercayaan yang begitu kental menyelimuti rumah inipun tidak berubah. Rumah model tahun 80-an dengan tatanan interior berantakan tidak memiliki tema.

Membuka alas kaki sebelum memasuki pintu rumah ini, terasa…lantai begitu dingin, hingga ke relung hati karena tatapan dingin dari penghuni rumah. Terasa ngilu dan sakit ketika mencoba melawan dingin di relung hati, tanpa sadar lutut ini gemetar. Berusaha tegar dan tetap tersenyum melewati tatapan dingin mereka.

Hanya ada dua kehangatan dalam rumah ini, kehangatan itu datang dari bocah-bocah yang masih belum mengerti tentang ketidakpercayaan. Mungkin bocah satunya sudah beranjak remaja dan…mungkin saja sedikit banyaknya mulai tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini. Tapi keyakinan ini hanya ada pada bocah paling kecil, sangat yakin…dia tidak tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini.

Menatap sekeliling ruang…tidak ada jiwa melekat pada ruang ini, tidak ada sedikitpun kenyamanan tercipta dalam rumah ini. Apa tidak bisa disebut nyaman hanya dengan bersih? Ya…nyaman bukan juga sekedar bersih, mewah, megah bahkan mahal sekalipun. Tapi nyaman tercipta dari penghuni rumah…

Terlihat ada bekas koyak pada daun pintu kamar, ada peristiwa… pada koyakan daun pintu kamar ini. Kemarahan terasa pada daun pintu koyak ini, entah seberapa besar tenaga yang digunakan untuk sekedar mengkoyak daun pintu ini. Tak pernah terbayangkan…rumah yang dingin dan penuh dengan kecurigaan ini bisa menyimpan kemarahan yang cukup besar. Apa mungkin kemarahan dalam rumah ini yang bisa menghangatkan dinginnya?

Entahlah…rumah ini ramai tapi bukan oleh riuh rendahnya tawa antar penghuni, bukan dari suara percakapan antar penghuni…entah… Rumah ini hanya ramai oleh suara alat elektronik dari masing-masing kamar, hanya ramai oleh suara alat masak di daerah dapur dan…hanya ramai oleh suara kucing tetangga. Seringkali terdengar pecakapan antar penghuni…yang berupa bentakan dan amarah, ataupun adanya percakapan dan gelak tawa…itupun terhadapa tamu atau tetangga yang berkunjung.

Ya…inilah rumah yang hidup dalam ketidak percayaan…

Semua tertutup rapat, semua terkunci dengan rapih dalam ruang pribadi masing-masing. Bahkan hati merekapun tertutup dari yang namanya kehangatan sehingga tidak tercipta lagi kehangatan antar penghuni. Saling curiga satu sama lain, saling tuduh satu sama lain dan saling menuding satu sama lain.

Maka tak ada ruang sedikitpun untuk bisa saling memberi kepercayaan pada penghuni. Bahkan mereka…penghuni…saling memiliki keterikatan bahwa mereka semua terikat dalam tali persaudaraan…

Inilah langkahku dalam ruang berpulang ke rumah…entahlah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s