Kopi Dengan Lima Sendok Garam

*merasakan kamu*

“Sialan!”

Entah pada siapa aku harus mengumpat. Apakah pada rasa rindu yang tak pernah mengetuk? Rindu yang tak punya etika, masuk tanpa permisi ke relung hatiku. Atau, sebenarnya aku mengumpat pada isi curhatmu?

Aku selalu membaca curhatmu, tentang pekerjaanmu, tentang keluargamu dan tentang kekasihmu yang selalu setia setiap saat seperti tag line salah satu merek pengharum ketiak di negeri ini.

Dan karena kekasihmu inilah, aku sulit merengkuh tubuh mungilmu yang sering kali kamu tampilkan dengan sosok kuat. Tapi kamu ternyata begitu rapuh. Dan karena kekasihmu ini juga, aku merasa kehidupan begitu brengsek.

Apakah pernah terpikir olehmu, bahwa aku lelah. Aku ingin curhat. Tapi aku hanyalah seorang bajingan dengan kehidupan yang begitu brengseknya di matamu. Kamu pasti akan mengolokku kalau aku curhat. Matamu pasti melirik genit dan tawamu akan meledak, seandainya kubeberkan semua yang ingin kucurhatkan.

Kamu dengan segala permasalahanmu, pasti merasakan lelah yang sangat, mungkin lelah yang sama denganku. Terkadang aku ingin sesekali menyuguhkan kopi untukmu, dengan membubuhi lima sendok garam tentunya. Agar kita bisa berpikir tak perlu lagi merasa lelah, kalau ternyata disuguhi secangkir kopi dengan lima sendok garam.

Apakah aku akan tega menyuguhkan kopi dengan lima sendok garam untukmu? Bahkan sekadar menemanimu makan agar lahap, makanan yang tidak aku suka akan kusantap habis.

Kamu, perempuan dengan mata yang menyimpan kegundahan, pernahkah terpikirkan olehmu pada setiap cerita tentang masalah keluargamu aku selalu merasa menjadi orang yang tidak berguna. Aku tidak bisa sekadar menulis kata-kata bijak untukmu. Aku hanya mampu mencoba bergurau denganmu, agar kesedihan dan kegundahan yang menyelimuti dirimu bagai awan kelabu bisa cepat pergi.

Kamu, perempuan yang selalu terlihat kuat dan riang, pernahkah terpikir olehmu kecemburuanku selalu meletup? Kecemburuan ketika mendengar ceritamu tentang kekasihmu, tentang teman-temanmu, bahkan tentang bosmu yang setiap hari bisa bertemu denganmu.

Apalah aku bagimu?

Dalam kesendirian, di warung kopi tempat biasa aku nongkrong, sambil membanting ringan gelas kopi ketiga, “Kelak kau akan tahu rasa apa yang selama ini mengusik di dalam hatiku.” Gemeretak bunyi gigiku, memendam rasa cinta.

“Saat kau tahu, mungkin aku tak lagi berada di sampingmu.”

Karena…
Aku lelah mengeja siang menjadi malam
Aku lelah bertemu senja tanpamu
Aku lelah mengusir rindu yang acap kali datang
Aku lelah berbenturan dengan cemburu

Percayalah…
Sepertinya waktu begitu dendam pada diriku.

Oktober 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s