Rumahku Adalah Kamu

Percakapan dini hari antara aku dan kamu
Lagi-lagi jarak terbentang di antara kita
Kali ini aku merindukan tempat yang disebut rumah
Seperti bait sajak ketika kita pertama menitipkan ciuman-ciuman
“Rinduku pada pria yang menatapku dalam, ketika kutanya: apa makna rumah bagimu? Dan tanpa ragu dia menjawab: Kamu.”
Sepertimu, bait sajak serupa tertuang bersamaan

Sewindu lebih kita menanak rindu
Beranak pinak tak berkesudahan
Rindu begitu egois
Terus bertambah
Tanpa kita ketahui cara mengurangi

Tak sekali kucoba asa pada yang lain
“Carilah kebahagiaanmu.” Ucapmu
Dan kecemburuan pun mendera dirimu

Adalah aku tak mampu berpaling
Lagi-lagi
Aku kembali dalam pelukmu
Lagi-lagi
Dadamu begitu lapang menerimaku

Sejak sewindu aku begitu merindukanmu
Karena pada tatap matamu itu kutemukan rumah
Seperti sajakmu
“Rumahmu ada dimana-mana.
Pada rimbun belukar.
Atau sajak-sajak liar.
Rumahmu ada dimana-mana.
Pada hangat dada seorang lelaki pejalan.
Atau larik puisi penyair kesepian.
Ya, rumahmu ada dimana-mana.
Kau, dan kata-kata yang orang lain sebut cinta, yang tentukan…”

Lakiku,
Rumahku adalah kamu

Oktober 2014

Iklan