Kopi Sialan, Sajak Keparat… (2)

Entah kenapa pagi hari itu, senyum lebar menyambutmu, senyum dengan tumpukan kotoran gigi ketika tai mata masih bertengger dengan manisnya.
Menit terus mengalir, keakraban mengitari pembicaraan hingga waktu mengharuskan saling berbalik badan, walau masing-masing dari kita enggan berbalik.

Entah aroma romansa apa yang terus menjalar sehingga membuat yang berada di dalam diri bergejolak. Atau mungkin dopamin, norepinerfrin dan serotonin sedang bekerja sama untuk saling tarik-menarik memberikan sinyal pada otakku.

Aku mungkin tidak pernah percaya -lagi- dengan yang disebut cinta oleh banyak orang. Tumbuh menjadi perempuan kebal menghadapi hunjaman tindakan tidak senonoh dan diterpa serangan patah hati, tidaklah mudah.
Bertahun-tahun membenahi diri, hingga melahirkan versi aku yang terbaru, ketika menetapkan kaki pada kemegahan kota besar.
Awal penetapan, mensyukuri sebuah kebetulan atau takdir, bisa bertemu denganmu.
Lakiku.

Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s