The Other You

Image

“Eh…ngapain kita di sini?” Tanya dia ketika tersadar. Lalu perlahan kulepas tanganku yang memeluk dirinya.

“Kita semalaman di sini?” kembali dia bertanya…dengan raut wajah yang penuh kebingungan. Aku berdiri dan menjauh dari tempat pembaringan hanya bisa tersenyum.

“Apa yang terakhir kamu inget?” tanyaku pelan dan agak ragu.

3 hari yang lalu kami berantem hebat. Setelah kejadian itu…tidak ada komunikasi diantara kami, sampai sore kemarin, aku menerima e-mail dari dia yang isinya hanya menyuruh aku untuk bersiap-siap dan akan dijemput dalam waktu 20 menit. Segera aku bersiap-siap.

Tidak ada pembicaraan selama perjalanan ini, kami terdiam sibuk dengan pemikiran masig-masing hingga sampai di tempat tujuan. Ya…aku teringat, ini tempat pertama kali kami memulai perkenalan. Segelas kopi pahit dan segelas lemon teh tawar tidak lupa kepulan asap rokok yang diselingi riuhnya tawa kami. Itu selalu menemani setiap pertemuan kami. Berhubung saat ini suasananya kurang mendukung, akhirnya dia memutuskan untuk pindah tempat.

Masih terdiam dalam perjalanan…hingga sampai ketujuan. Aku sudah bisa menebak tujuan berikutnya ke mana, karena tidak banyak tempat di Bandung ini yang sesuai dengan selera kami. Baik dari makanan maupun suasananya, tapi tempat yang paling utama kami cari adalah yang tutupnya dini hari.

Setelah memesan kopi hitam dan teh lemon, dia memulai pembicaraan. “Aku masih boleh panggil kamu Non?”. Dari pertanyaan dia, sudah jelas arah pembicaraan akan ke mana. Lalu dia ungkapkan semua alasan-alasan dia kenapa mau mengakhiri hubungan ini. Menurut aku terlalu bertele-tele dan agak bosan aku mendengarnya.

Lalu aku potong, “It’s all done, right? Our relationship and our partnership.”

“Kamu kan belum dengar penawaranku, kenapa langsung menyimpulkan?” Dia menimpali.

“Kamu lupa kesepakatan yang pernah kita buat? Jauh sebelum kamu ajak aku gabung di usaha kamu, aku pernah bilang, sampai hal buruk terjadi…aku akan lebih menjaga hubungan kita dari pada kelangsungan usaha ini.”

“Kamu serius tentang itu?”

“Sangat serius! Dan keputusan kamu menyudahi hubungan kita, maka kamu tau apa konsekuensinya kan?”

Tidak lama kami berdiam diri…tiba-tiba dia menggigil. Dalam kondisi seperti ini, aku sudah mati rasa menghadapi dia dan kudiamkan. Dalam kondisi mendiamkan dia, yang entah berakting atau tidak, otakku terus berstrategi. Bagaimana melanjutkan hidup ke depan…bagaimana memulai lagi kerja sendiri dan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di otakku.

Tapi…lama kelamaan aku tidak tega melihat dia seperti itu. Aku pindah duduk disampingnya, aku ambilkan jaket dan mengusap punggungnya. Dia berbisik, “Aku tidur dulu bentar ya?” aku hanya membalas dengan senyum. Lalu dia menyilangkan tangannya di meja dan tertunduk.

Kurang dari 10 menit dia kejang-kejang, aku berusaha untuk tenang. Ya…aku sudah tidak punya rasa khawatir lagi sama dia. Saat dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kami, maka saat itu aku tutup semua rasa aku tentang dia. Ketika dia terbangun…

“What’s your name?” Tanya dia, dan jujur ini bikin aku ketawa…permainan apa lagi ini?

“Kamu kalau bercandaan ga gini caranya” jawabku sambil bersiap untuk pindah duduk, yang lalu dia tarik tanganku.

“Please, sit beside. Speak in English.” Jawab dia. Kali ini aku berusaha mengamati dia, kuperhatikan mata, gerak geriknya. Dan aku sangat yakin…

“You don’t answer me, I forgot your name. But one thing for sure is…. I’m so in love with you. You are beautiful and smart woman.” Kalimat dia membuyarkan pemikiranku. Aku berusaha mencari ponsel yang dari awal ketika kami sampai di sini sengaja dia jauhkan. Ternyata dia bisa membaca, kalau aku sedang mencari ponsel, dengan sigap dia memasukkan ponsel k etas dia.

“You don’t need your bb right now, just talk to me. I would like so much to spend a nite with u in our own private terrace, far away from anything, where we can talk, we can laugh as loud as we could and we can make love until the sun come out then after all those amusing feeling,  we could go to sleep for a day long. One fine day…” Ucap dia sambil matanya menerawang jauh. Ini kesempatan aku mengambil ponsel dari tas dia.

“Eh..besok foto di ITB kan? Semua udah kamu siapin property-nya?” Tanya dia selang beberapa menit dia berceloteh dengan bahasa Inggris dan logat British yang sangat kental. Aku hanya tersenyum dan “Iya ini aku mau nelpon fotografernya dulu ya, biar besok ga terlambat.” Jawabku dengan tenang, lalu aku berdiri menjauh dari dia tapi berusaha terus memantau dia. Foto di ITB adalah kejadian seminggu lalu!

Aku coba menghubungi beberapa teman dekat dia, menanyakan apakah dia pernah seperti ini sebelumnya. Untungnya aku sering menghadapi berbagai macam kondisi psikologis orang yang unik. Kondisi ini membuat aku tidak panik, aku hanya butuh cara penanganan kalau dia sudah pernah seperti ini. Kalau belum pernah, maka aku akan menganalisa sendiri. Karena aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, akhirnya aku mulai bertanya-tanya ke temanku yang lain melalui bbm. Aku kembali duduk di sebelah dia.

“Kamu inget ga, sebelum ke sini kita ke mana?” tanyaku

“Mmmm…tadi siang kan aku janji mau anter kamu belanja, tapi aku ketiduran dan kamu marah.”

Jawaban ini semakin menjelaskan kondisi dia. Dan aku terus menganalisa dengan terus memberi pertanyaan, tiba-tiba…

“Give me beer…after 8 or 9 years, I really want beer right now”Image

3 botol bir hitam dia habiskan dengan sekejap. Dia terus berceloteh menggunakan bahasa Inggris, tentang temannya yang sudah meninggal, tentang mobilnya dan tentang sepatunya. Sampai akhirnya tempat ini tutup dan aku mulai panik memikirkan bagaimana kami pulang, sedangkan kondisi dia seperti itu.

Dia dengan sangat yakin, “I’m not drunk. I can drive carefully. Trust me, I’ll drive you home”. Tapi kepanikan aku menjadi ketika dia menyebutkan rumahku yang lama, padahal aku sudah hampir 2 bulan pindah. “Better we go back to our office, how?” kataku, dengan harapan semoga dia ingat di mana aku tinggal setelah dalam perjalanan menuju kantor.

Ketika sudah hamper sampai, kami ada di pertigaan jalan, arah menuju kantor adalah belok kiri dan arah menuju tempat itnggalku ke kanan. “Mmmm…aku sering belok ke kanan, tapi ke rumah siapa ya?” Tanya dia.

“Yakin kamu tidak ingat kalau belok ke kanan itu ke mana?” aku berusaha memastikan.

“Ah…forget it. Turn left toward the office, right?” aku hanya menjawab dengan anggukan.

Sampai di kantor, dia kembali berceloteh dengan bahasa Inggris dan logat british yang sangat kental. Akhirnya dia mulai bercerita tentang salah satu teman kantor kita, tapi ketika dia mulai membuka ponselnya, “Who’s Fred? Who’s Salma… why they are bbm on me? Why they are not speak in English?” dia menatapku penuh bingung. Lalu aku ambil ponselnya, aku coba jelasin siapa saja mereka yang ada di kontak bbm nya dia. Ternyata banyak diantara temannya yang tidak dia ingat.

Aku coba membujuk dia untuk tidur, karena seingat aku dia menjadi seperti ini adalah setelah tidur dan kejang-kejang. Dia menolak, “I know, if I sleep, when I wake up you’re gone, u leave me. I can’t see your face again, I can’t get your warm hug, no one made me herbal medicine just like you. Miss you already, miss your smile, miss your laugh.” Dia berkata sambil menatap seluruh penjuru ruang kantor dengan mata berkaca. Ya…hampir setiap jengkal ruang di kantor ini aku yang menata.

“Hug me, please. Don’t leave me…” sambil menarik tanganku untuk memeluk dirinya. Dan dia terus bercerita betapa dia mencintaiku dan banyak hal yang dia dapat setelah mengenalku. Air mataku pun menetes…kalau aku ingat, betapa dia berusaha meyakinkan aku bahwa dia akan menjaga hatiku. Berkali-kali dalam keadaan tidak sadar ini, dia mengajak aku untuk kembali, baik kembali dalam hubungan maupun kerjaan. Dengan kesadaranku yang penuh, aku tetap menolak. Karena bagaimanapun, yang mengajak aku bukan dia yang sebenar-benarnya dia.

Secara fisik mungkin benar adanya inilah dia, tapi dari gaya dia bicara, gaya jalan, minum bir, tidak merokok dan tidak minum kopi. Aku sangat paham, ini adalah The Other You. Hingga akhirnya dia mau rebahan, tinggal satu langkah agar dia mau tidur. Aku selimutin seluruh badannya lalu aku buat dia senyaman mungkin dengan pelukanku. Kalau dia tertidur dan sadar, mungkin ini juga akan jadi pelukan dan kecupanku terakhir untuk dia.

Beberapa kali dia hampir tertidur, tapi dia terus berusaha untuk tetap terjaga. Aku sentuh dengan jariku seluruh bagian wajah dia, hingga akhirnya dia terlelap. Aku dengar nafasnya yang mulai teratur dan tenang. Perlahan aku menarik tanganku dari lehernya. Aku tidak mau dia tersadar dalam kondisi seperti ini. Baru saja aku menarik tanganku, dia kejang-kejang, aku takut akan terjadi hal lain, aku diam mematung. Lalu…kulihat dia membuka mata…

“Eh…ngapain kita di sini?” Tanya dia ketika tersadar. Lalu perlahan kulepas tanganku yang memeluk dirinya.

Kejadiannya Mei 25, 2012
Ditulisnya Juni 13, 2012
Aakuw…
When will I see you again? Kalau memang saling mencintai, kenapa keegoisan kita yang dijadikan alasan untuk berpisah?

Ketika Aku Memilih

Ketika aku memilih untuk mencintaimu… Satu hal yang aku yakinin…aku sedang menjemput impianku…
Maka kutata setiap langkahku, agar dalam pejalanan menjemput impian ini aku ga lagi merasakan perih…
 
Banyak yang berkata, dalam menjemput impian, akan ada yang dikorbankan…dan itu pasti harta yg tak ternilai, apakah kamu sanggup? Dengan lantang aku jawab: Sanggup!!!
Ya…dengan berat hati, aku menitipkan sebagian jiwaku. Sakit? pasti..belasan tahun aku bersamanya. Sedih? sudah kering air mata ini untuk menangis. Sampai pada saat aku harus melepaskannya, aku tidak berani ada disampingnya. 
 
Aku korbankan waktuku, aku korbankan sebagian jiwaku…demi kamu dan semua yang ada didalamnya. Demi meraih impianku…
 
Semakin banyak aku berkorban…dan berkali-kali dengan kasus yang sama, kamu menghancurkan rencana aku yang hanya punya kesempatan sebentar untuk bisa menemui dan bermain dengan sebagian jiwaku. Aku terus bertanya, apa salah aku sampai kamu tega melakukan itu berkali-kali.
 
Aku yang sangat sadar memiliki keterbatasan waktu dalam mendampingi sebagian jiwaku…kenapa tidak bisa kamu sadari hal itu?
 
Hancur ini sudah bukan sekedar hancur…tapi kamu dengan tanganmu sendirilah yang membunuhku secara perlahan. Tapi…aku tetap bertahan, bahwa aku akan terus menjemput mimpiku…walaupun aku harus menjalankannya menjadi mayat hidup.
 

Tak Pernah Berkata ‘I Love You’

Entah kenapa berat sekali bibir ini untuk mengucapkan I Love You. Awalnya aku pikir karena aku tidak terbiasa mengucapkan kata itu, dan akhirnya aku mengeluarkan pembenaran bahwa aku geli mendengar kata2 itu.

Dan aku tersadar…aku begitu gampang mengucapkan kata : sayang, dear, darling, cinta dll tetapi bukan pada pasanganku, terkadang aku mengatakan hal itu ke teman yang belum pernah aku temuin, yaitu di twitter dan juga teman2 aku lainnya yang aku cukup dekat dengan mereka. Mungkin bisa dibilang aku sangat mengumbar kata2 itu ke orang lain yang teptnya bukan pasanganku…

Bibir ini terkatup rapat ketika kamu bilang ‘I Love You, Non’, aku hanya bisa tersenyum dan mencium pipimu sebagai respon dari perkataan itu. Kalaupun aku membalasanya, kamu selalu bilang…hanya sekelibat.

Berat buatku untuk mengucapkan kalimat itu…karena aku takut kecewa. Hanya itu alasanku!!! Cukup aku tunjukkan dengan perlakuanku. 🙂

Karena Kamu Adalah Cinta

Aku yang mengagumi kamu sejak pertama kali bertemu

Bayang-bayangmu terus mengusik imajinasiku yang liar

Kamu adalah sosok yang selama ini aku impikan

Memperhatikan kamu dari hal terkecil

Itu adalah hal yang sangat menarik buatku

Cara kamu berjalan,

Cara kamu bicara,

Hingga cara kamu menatap aku…

Semua itu tidak bisa mengalihkan perhatian aku

Why you are so amazing?

Ini membuat aku tidak bisa melihat sedikitpun cela dalam dirimu

Ini membuat aku tidak bisa menggunakan akal sehat aku setiap memikirkan kamu

Karena kamu adalah cinta yang aku cari selama ini

Karena kamu adalah pengeran hatiku yang membuat aku berhenti mengembara

Menyentuh Wajahmu

Menyentuh setiap lekukan dan detail wajahmu dengan jemariku, itu merupakan hal yang paling sering aku lakukan. Aku ga peduli, kamu suka atau kamu merasa risih mungkin juga kamu ngerasa ga nyaman… Yang aku peduli, aku cuma mau lakuin itu…hehe… Kan cinta itu egoisme mutualisme :p

Menelusuri setiap lekukan dan detail wajahmu dengan jemariku, lekukan mata, hidung, tulang pipi, kening hingga dagu. Entah kenapa, aku sangat mengagumi itu semua, mungkin karena di mataku itu sebuah kesempurnaan.

Kesempurnaan atas imjinasi dan khayalan yang selama ini aku curahkan dalam tulisan… Kesempurnaan atas wujud asli yang nyata ada di depan mata. Yang terkadang, hanya dengan memandang wajahmu, sudah  merupakan kebahagiaan untukku #bahagiaitusimpel. Apalagi sampai aku bisa menyentuh wajahmu.

Ya…sesimpel itu untuk mewujudkan kebahagiaan karena #bahagiaitusimpel

Buah Karya Dari Tangan

Tangan…

Ga tau kenapa, aku sangat suka ngeliat tangan kamu. Mmmm…bisa dibilang cowo’ banget kali ya…tanganmu itu haha… Tapi bukan karena itu juga sih sebenernya…aku selalu kagum dengan tangan, karena banyak buah karya yang tercipta karena bantuan tangan. Memang…awal dari buah karya itu adalah pemikiran. Bagaimanapun juga…mencurahkan sebuah pemikiran membutuhkan bantuan tangan. Baik hanya sekedar menulis hasil pemikirannya sampai proses agar jadi suatu karya dari pemikiran tersebut.

Bukannya aku mengucilkan arti orang2 yang ga memiliki tangan ya… Mereka jauh lebih hebat dalam menciptakan karyanya dengan segala keterbatasannya.

Mungkin aku bukan seperti cwe kebanyakan….aku sering mengagumi orang dari hal2 yang bisa dibilang ga wajar atau ga penting. Tapi, apapun itu…aku punya alasan kok. Ya…kamu dengan tanganmu yang suka mengusap2 mukaku. Kamu dengan tanganmu yang suka memegang tanganku juga. Kamu dengan tanganmu yang suka memeluk aku dan kamu dengan tanganmu juga…membuat aku berada di’atas’ 😉

I Create My Own Future

Kamu meminta aku untuk menambah satu kategori di blog ku…di mana kategori ini khusus tentang kamu.

Ya…kamu adalah pangeran yang selalu ada dalam pikiran dan khayalanku. Semua hal2 yang aku khayalkan dan aku tuliskan..itu semua ada didiri kamu. Sampai hal2 yang tidak aku suka juga itu ada didiri kamu. I create my own future.. itu kata A Radwin. Karena aku menulisnya dengan sepenuh emosi yang aku rasakan…maka energi dan alamlah yang mengkondisikan itu menjadi kenyataan.

Ya…aku sangat sadar…dengan segala yang aku khayalin, semua ada resikonya ketika menjalani. Berbeda rasanya ketika aku menulisnya, terasa ringan karena tidak menjalani dan merasakan detik demi detik setiap waktunya.

Kenapa aku ga berharapa? Kata siapa?..kamu lupa ya… Dibalik terbukanya aku, sebenernya aku sangat tertutup sama halnya dengan dibalik ketawa aku yang ga pernah bisa kontrol, itu tersimpan pedih dan tangis yang aku tutupin. Jadi…dibalik aku ga berharap…sebenernya aku menyimpan harapan yang sangat besar. Tapi aku takut dengan harapan itu…takutnya malah si kecewa yang ketawa paling akhir 🙂