Kopi Sialan, Sajak Keparat… (3)

Kamu baik. Yang kadang membuatku tersadar, bahwa masing-masing dari kita seringkali saling bercermin. Penampilan kamu tidak begitu rapi, tetapi bersih. Dan kamu sering menegur aku untuk mulai menjaga penampilan, tapi tidak menor. Tubuh kurusmu dengan tinggi jauh di atasku, dengan bola mata coklat, sering menatap dalam hingga aku merasa risih. Dahimu penuh kerutan, terlihat gampang terpicu emosi.
Sedangkan aku, keras kepala, egois. Bagian dari orang-orang yang berdarah dingin. Bahkan mungkin perasaanku sudah tidak berfungsi dengan baik. Semua diselubungi dengan untaian senyum atau sesekali gelak tawa.

Tanpa kenal jemu, satu dasa warsa sudah kita lewati bersama. Milyaran pesan dan gelombang suara via udara sudah kita lakukan tanpa kenal bosan. Pagi, siang, senja, malam hingga dini hari, dari sekadar bermanja hingga bentakan demi bentakan. Berujung pada pertemuan demi pertemuan. Yang di dalam diriku terus bergejolak hingga aku tidak dapat lagi menahannya. Sepertinya gejolak ini terus menyeruak ke dalam ruang dimensi romansa.

Masih teringat jelas dalam ingatanku, jenis aroma keromantisan di dalam dirimu, hingga membuatku mampu memadu satu persatu kehangatan yang menjalar pada seluruh permukaan tubuh.
Bukankah ketika bertemu seseorang memiliki persamaan gelombang, otomatis kita terikat? Bahkan sebelum adanya otomatis, semua dilakukan dengan cara manual.
Lalu, masing-masing dari kita bertukar pengalaman kehidupan. Berbagi cerita dan mimpi bersamamu. Menghabiskan pagi, siang dan malam dengan berbagai momentum yang tak terlupakan.
Kamu, tidak akan pernah kehilanganku.
Pada sesapan kopi hingga sisa ampas yang sering kamu intip.
Pada guratan sajak hingga habis sudah seluruh tinta.
Kopi dan sajak yang mengantarkanku pada dimensi ketidakberdayaan menghadirkan aroma-aroma kehangatan yang menyerukan, aku rindu padamu.

Juli 2017

Iklan

Kopi Sialan, Sajak Keparat… (2)

Entah kenapa pagi hari itu, senyum lebar menyambutmu, senyum dengan tumpukan kotoran gigi ketika tai mata masih bertengger dengan manisnya.
Menit terus mengalir, keakraban mengitari pembicaraan hingga waktu mengharuskan saling berbalik badan, walau masing-masing dari kita enggan berbalik.

Entah aroma romansa apa yang terus menjalar sehingga membuat yang berada di dalam diri bergejolak. Atau mungkin dopamin, norepinerfrin dan serotonin sedang bekerja sama untuk saling tarik-menarik memberikan sinyal pada otakku.

Aku mungkin tidak pernah percaya -lagi- dengan yang disebut cinta oleh banyak orang. Tumbuh menjadi perempuan kebal menghadapi hunjaman tindakan tidak senonoh dan diterpa serangan patah hati, tidaklah mudah.
Bertahun-tahun membenahi diri, hingga melahirkan versi aku yang terbaru, ketika menetapkan kaki pada kemegahan kota besar.
Awal penetapan, mensyukuri sebuah kebetulan atau takdir, bisa bertemu denganmu.
Lakiku.

Juli 2017

What Indeed Love

If I fell in love with you,
Would you promise to be true.
And help me understand,
‘Cause I’ve been in love before.
And I’ve found that,
Love is more that just holding hands.
If I gave my heart to you,
I must be sure from the very start,
That you would love me more than her.
If I trust in you, oh please…
Don’t run and hide,
If I love you too, oh please…
Don’t hurt my pride like her.

mengeruk tumpukan jejak digital 2012

Kopi Sialan, Sajak Keparat… (1)

Di antara sekian banyak pertemuan yang disyukuri, bertemu dan berkenalan denganmu adalah hal terindah tanpa pernah putus kuucapkan syukur dalam kelamnya hati. Kamu membuatku berperang dengan kebodohan-kebodohanku sendiri yang hampir datang setiap detik dalam hidupku.
Kebodohanku pernah bersumpah untuk menolakmu bila mencuri ciuman dari bibirku. Kebodohanku yang pernah berjanji tidak akan pernah meringkuk mendengarkan debaran dadamu yang syahdu. Dan kobodohan lainnya yang terus saja aku sumpahi tanpa kenal lelah.
Apakah seperti ini yang disebut gejolak kasmaran?
Apakah seperti ini yang disebut haru biru merindu seseorang?
Dan entah berapa ribu episode drama yang aku perankan demi menyibukkan pikiran tentangmu. Dan entah berapa juta kali kalimat menyerah yang aku ucapkan.

Kopi dan sajak yang selalu membuat aku jatuh cinta dan menyerah padamu sekaligus. Kopi dan sajak juga yang selalu membuat aku dan kamu saling membentak dan bermanja sekaligus.

Juli 2017

Rumahku Adalah Kamu

Percakapan dini hari antara aku dan kamu
Lagi-lagi jarak terbentang di antara kita
Kali ini aku merindukan tempat yang disebut rumah
Seperti bait sajak ketika kita pertama menitipkan ciuman-ciuman
“Rinduku pada pria yang menatapku dalam, ketika kutanya: apa makna rumah bagimu? Dan tanpa ragu dia menjawab: Kamu.”
Sepertimu, bait sajak serupa tertuang bersamaan

Sewindu lebih kita menanak rindu
Beranak pinak tak berkesudahan
Rindu begitu egois
Terus bertambah
Tanpa kita ketahui cara mengurangi

Tak sekali kucoba asa pada yang lain
“Carilah kebahagiaanmu.” Ucapmu
Dan kecemburuan pun mendera dirimu

Adalah aku tak mampu berpaling
Lagi-lagi
Aku kembali dalam pelukmu
Lagi-lagi
Dadamu begitu lapang menerimaku

Sejak sewindu aku begitu merindukanmu
Karena pada tatap matamu itu kutemukan rumah
Seperti sajakmu
“Rumahmu ada dimana-mana.
Pada rimbun belukar.
Atau sajak-sajak liar.
Rumahmu ada dimana-mana.
Pada hangat dada seorang lelaki pejalan.
Atau larik puisi penyair kesepian.
Ya, rumahmu ada dimana-mana.
Kau, dan kata-kata yang orang lain sebut cinta, yang tentukan…”

Lakiku,
Rumahku adalah kamu

Oktober 2014

Tentang Ciuman

Kemarin, persis sekitar dini hari seperti ini
Ada yang ragu meminta
Ada yang ragu menerima
Entah siapa memerankan apa
Satu ciuman
Kemudian hadir memerankan dirinya sendiri

Ada yang terbawa,
Bibirmu
Mungkin ada yang tertinggal di situ,
Bibirku
Satu, dua
Satu, dua
Ciuman saling berperan

Kita merayakan terlambat yang selalu datang tepat waktu, melalui ciuman

November 2014

Bunga itu Bernama Cinta

Aku memiliki sepetak tanah yang gembur, kutanami rasa di sana. Kurawat, kupelihara dan selalu kujaga hingga tumbuh sekuntum bunga nan elok. Bunga itu bernama cinta.

Bunga yang paling cantik di antara bunga yang pernah kau lihat. Bunga ini tidak memiliki aroma seperti bunga yang pernah kau temukan. Ada aroma kerinduan ketika kau menghirup lekat sembari mata terpejam, sesapi hingga dalam pada batang lehernya.

Ingin kupetik bunga ini untukmu. Tapi aku takut, kamu tidak merawatnya. Seperti aku merawat dengan memberi kehidupan melalui tetes darahku. Aku takut, kamu tidak memeliharanya, seperti aku memelihara dengan ucapan mesra pada setiap hembusan nafasku. Aku takut, kamu tidak menjaganya, seperti aku yang mengutuk ketika kantuk datang.
Entah sudah berapa kali bunga ini kupetik, akhirnya melayu, kering, kelopaknya berjatuhan satu demi satu, hingga kelopak terakhir pun terjatuh. Aku begitu perih.

Pernah lagi kupetik, belum juga layu. Bunga ini dihempaskan begitu saja hingga kelopak bunga yang masih segar berhamburan.

Aku hanya bisa terdiam memeluk diri sendiri.
Bukankah dia, dia dan entah berapa dia yang pernah meminta bunga itu sendiri kepadaku?

Lakiku, biarkan bunga ini tetap berada dalam sepetak tanah yang berada di lubuk hatiku. Bila suatu saat kamu ingin melihatnya, bunga itu akan selalu memancarkan kehangatan.
Hangat yang tidak pernah kau sadari seperti namanya, cinta.
Bila suatu saat kamu merindukannya, bunga itu akan terus menyimpan aroma kerinduan untukmu yang tak pernah habis oleh waktu.

Lakiku, bunga ini untukmu. Biarkan dia begitu adanya sampai kau sendiri yang memetiknya.

31 Januari 2014