Perempuan Adalah Hukum Waktu Yang Terbatas*

Lorong waktu kehidupan perempuan
Pada siklus yang sudah dipastikan
Garis darah bersekutu pada bulan
Persetubuhan akan lahirnya anak-anak

Perempuan dengan keterbatasan kecantikannya
Gurat kejujuran pada cermin yang tak retak
Mata basah mewakili peta sajak
Tubunya sunyi menimbun luka dalam kata
Perempuan…
Adalah hukum waktu yang terbatas
Menunggu dermaga
Berpulang kembali pada tanah

 

*Perempuan Ibu, Rosdianah nd

Ruang Orang Ketiga

Ke samping

Ada kalbu saling memandang
Membiarkan hingga mengakar
Kita terhipnotis pada semesta
Dosapun tak kuasa lagi ditunda

Ruang tersirap pada waktu
Waktu tergadai dalam ruang
Jarak begitu menyesatkan rindu
Bahkan rindu selalu mengidap
Dusta tertatih tenggelam dalam dosa
Dosa kadang tertunda dibuainya

Pada laci kau simpan rapat rahasia
Untuk orang ketiga
Demi melengkapi bab-bab kehidupan

Kita…terlanjur percaya dengan segala yang membutakan

[Penyair memang tak pernah jatuh cinta]

Sajak Selendang

Seperti hujan merindu turun ke bumi
Dirimu selalu kuingin berada di sisi
Setelah pelangi tiada kau selendangkan
Lalu kenangan mengajakku mabuk

Mungkin hati telah buta
Atau jiwa terlalu gelap karena berjuta alpa
Semoga tiada lagi bidadari
Menyulam pelangi untuk kau selendangkan

Betapa aku ingin mengembara dalam waktu
Menjelajahi sebuah kota yang gersang
Lalu menjelma menjadi Lentera yang menempel di dinding
Sembari bersemayam di pelukmu

Lihatlah…. selendang pemberianmu
Duduklah di sampingku
Sembari bersama membaca ribuan buku
Sebab pada waktunya,
Mungkin kau harus pulang

Lalu akan kutulis ribuan sajak sebelum kau pulang
Pada serpihan sajakku tentang kota ini,
Titipkan untukku sebuah senyuman yang sesepoi angin
Sebab untuk mengembalikan selendangmu aku enggan

Atau…
bawalah serta selandang berisi sajak-sajaku

Selembar Puisi

Puisi demi puisi tertoreh bersamaan kenangan yang ingin diabadikan
Ketika malam hari begitu gaduh oleh penyair yang memuja malam
Maka siang pun menjadi kelu dan dingin untuk sekedar mencari kata-kata

Dalam kelamnya malam, rindu terus meronta
Maka puisi adalah jawaban jiwa abadi bagai candu dalam rindu

Tidak…
Aku tidak mau semua kenangan tentangmu hanya sekedar jadi tulisan pada selembar puisi
Bukankah kita sama-sama lelah mengadu pada malam tentang rindu?
Dan aku lelah mengakhiri kenangan dalam puisi