karena kita memang bisa..

Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hampa diluar batas kemampaunnya.

Sepotong ayat pendek ini selalu dijadikan penghiburan bagi mereka-mereka yang bersedih karena banyaknya cobaan, namun sebenarnya mempunyai makna yang lebih dari yang disampaikan secara kasat mata, apalagi kalau mau kita terjemahkan dalam bahasa mata dengan melihat sekeliling. Karena
kalimat pendek ini juga bisa dimaknai bagi mereka yang menerima apapun itu dalam hidup termasuk kebahagiaan, karena Allah juga tidak akan memberikan kebahagiaan diluar kemampuan kita menikmatinya, untuk itu harusnya diterjemahkan dengan bahasa mata dengan melihat sekeliling kita…

Artinya… peran sebagai seorang Ibu sekaligus Istri dan anggota masyarakat dalam menjalankan tugas domestic dan tugas public memang menjadi beban bagi para perempuan, itu karena ”KITA MEMANG BISA” menjalankannya. Cecak yang hidupnya didinding dan hanya merayap kian kemari menjadikan
nyamuk yang lincah sebagai makananya, namun hingga hari ini tidak ada satu Koran atau TV manapun di dunia yang memberitahukan Cecak mengadakan aksi demo untuk menolak itu, kenapa? Jawabannya mudah saja ”Karena memang cecak Bisa” untuk hidup seperti itu.

Ibu atau lebih tepat peranan perempuan memang bisa dikatakan multi fungsi, multi job dan multi segalanya deh…. Tapi sebelum itu pasti sudah ada bekal yang disiapkan oleh Sang Kuasa walaupun kadang kita menyadari kita punya bekal itu bukan sebelum peran itu datang namun saat peran itu dijalankan, sehingga acapkali dalam menjalankan itu kita menggunakannya dengan metode try and error. Tapi akhirnya tetap bisa saja juga kan? Yang penting barangkali saat ini adalah suatu penyadaran bagi para perempuan bahwa mereka memang istimewa, karena ibarat pegawai dalam suatu struktur perusahaan kita mempunyai beberapa jabatan sekaligus, ya manejer, ya bagian pemasaran, bagian keuangan bahkan sekaligus OB dan cleaning service (hebat kan?) Dan untuk semua jabatan itu kita diminta menghasilkan prestasi yang maksimal.

Lalu caranya ? yaa… pertama harus yakin dulu bahwa ‘Kita memang bisa’ karena tanpa ada keyakinan itu tidak akan ada semangat untuk menjalankannya malah yang akan muncul adalah perasaan tidak adil, kenapa perusahaan yang sebesar ini terlalu pelit untuk menggaji banyak orang untuk berbagai jabatan yang kita pegang. Itu mah gawat. Karena kita memang tidak bisa mengelak dari kenyataan. Tapi positifnya adalah kita orang yang paling banyak menerima gaji dari kantor, lihat saja binar bintang dimata anak-anak, luapan cinta dimata pasangan,kekaguman dari banyak pihak, genggama terimakasih pasein (bagi perawat dna dokter atau semisal itu) dan yang terpenting Kunci pintu surga ada ditelapak kaki kita. (lalu nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan? Ar-rahman) Jadi lebih baik segera bekerja,susun schedull dan jadwal untuk melaksanakan semua itu secara baik, harus disadari bahwa kita bukan Superman (superwomen) yang bisa mengerjakan semua sekaligus, ada waktu dimana kita harus mendahulukan yang lain tapi bukan berarti meninggalkannya satupun. Jadwal ini mesti ditepati dengan baik.

Lalu bersikaplh Ikhlas, artinya kerjakan semuanya dengan penuh Cinta, karena Cinta adalah kekuatan ajaib yang tidak bisa digantikan apapun, ikhlas menerima hasil kerja tanpa berusaha menyalahkan diri sendiri apalagi orang lain adalah langkah penting menuju kebahagiaan.

He he he ..kadang bicara memang mudah ya teman, tapi menjalankannya sangat sulit, bagiku awal aku menjadi Ibu juga merasakan sangat kesulitan, apalagi seorang Ibu yang harus menjawab Tanya mata anaknya kenapa hanya ia hanya memiliki BUnda, kenapa tidak ada lelaki dewasa yang dipanggilnya Ayah. Sangat sulit…..karena sebagai seorang pekerja yang jam kerjanya terkadang 24 jam sehari dan tidak ada tanggal merah di kalender aku juga harus membayar gaji dari perusahaan dengan pengabdian yang setimpal. Diluar itu, sebagai bagian dari masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di kota kecil dan masih tradisional tuntutan masyarakat dan pandangan masyarakat bagi seorang perempuan tanpa suami sangat berat, belum beban amanah yang dari dulu sepertinya sudah ditakdirkan bagi keluarga besar semakin membuat aku tidak bisa menampakkan muka sedih apalagi hancur. Tapi dalam kesulitan itu, waktu membantu ku melewatinya, apalagi dalam perjalanan terlalu banyak kemudahan yang dijumpai dalam belitan kesusahan, so..yang terpenting karena aku memang bisa

Tinggalkan 4 “JANGAN”

* Jangan katakan, “Ibu, kan, sudah bilang berulang kali kalau masuk kamar ketuk pintu dulu. Enggak sopan, tau!” Katakan, “Kak, Ibu terganggu kalau Kakak masuk kamar Ibu atau kamar siapa pun tanpa mengetuk pintu dulu. Ibu juga kalau masuk kamar kakak ketuk pintu dulu kan? Anak yang sopan selalu menghargai orang lain.”

* Jangan katakan, “Kalau kamu enggak selesai pakaian dalam waktu 5 menit lagi, ibu tinggal ya.” Katakan, “Kita harus cepat berangkat nih soalnya Eyang sudah lama nunggu. Kamu bisa berpakaian cepat dalam waktu 5 menit? Ibu tunggu ya atau Kakak butuh bantuan Ibu?”

* Jangan katakan, “Bersihkan kamarmu sekarang!”, tapi katakan, “Kamar ini perlu dibersihkan. Kakak mau membereskan buku-buku atau tempat tidur dulu?”

* Jangan katakan, “Tadi ibu kan sudah bilang kamu enggak boleh lari-lari di supermarket. Dasar bandel!” Lebih baik katakan, “Ibu tidak suka Kakak lari-lari karena mengganggu Ibu dan pengunjung lain yang juga berbelanja. Kakak boleh pilih, kamu Ibu pulangkan ke rumah dan berarti kita enggak jadi belanja, atau kamu boleh menemani Ibu belanja tapi tidak lari-lari.”

 

Jangan mencemooh anak

Tidak semua nama julukan bernada positif bahkan ada yang diberikan dengan tujuan untuk mencemooh. Seperti, anak yang kurus lantas dipanggil Cacing, kulit si kecil yang berwarna gelap diberi julukan “Si Blacky”, rambut anak yang keriting diberi nama Si Kribo atau Brekele. Tidak jarang, pula yang berunsur SARA. Anak berhidung supermancung mendapat julukan “Si Arab”, “Cina” untuk Si Sipit, dan “Si Batak” karena asalnya dari Medan. Anak-anak pun kerap dipanggil atas nama orangtuanya. Misal, nama aslinya Iksan tapi dipanggil Saidi karena itu nama ayahnya.

 

Apakah nama julukan seperti itu bisa memengaruhi tumbuh kembang anak? Jawabnya tergantung pada karakter anak. Ada anak yang tetap enjoy meski mendapat julukan buruk dari temannya, tapi ada juga yang tersinggung (biasanya yang berkarakter pemalu dan sensitif). Nah, yang perlu diwaspadai tentu anak yang tidak menerima julukan yang diberikan kepadanya. Kalau terus-menerus diledeki, konsep dirinya bisa menjadi negatif. Ia merasa sebagai anak tak berguna dan akhirnya menarik diri dari lingkungan. Prestasi belajarnya menjadi tidak optimal dan tidak menutup kemungkinan ia dendam sehingga sering ajang saling ledek berbuah konflik yang berujung perkelahian.

 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua saat anak menjadi korban “julukan”:

Lihat bagaimana reaksi anak mendapat nama julukan tadi. Tersinggung, biasa saja, atau justru senang. Masing-masing reaksi membutuhkan penanganan tersendiri.

Jika anak merasa terganggu, cobalah berikan solusi dengan berperilaku cuek. Respons berlebihan seperti marah kadang membuat orang semakin senang untuk meledek. Dengan berperilaku cuek, si peledek akan bosan sendiri dan menghentikan ledekannya.

Coba ajari dia agar bersikap asertif dengan meminta anak mengungkapkan perasaan ketersinggungannya misal, “Aku enggak suka kalau kamu memanggil aku Si Gajah!”

Tanamkan agar anak tidak meledek anak lain. Siapa tahu di diledek karena dia sendiri senang meledek orang lain. Bila ia tidak bersedia diledek, minta ia untuk menghindari kebiasaan itu juga.

Jadilah teladan yang baik. Jangan memberi nama “baru” pada tetangga. Contoh Pak Darsin dibilang Pak Kentung karena perutnya yang buncit.

 

BEDA LABEL, BEDA JULUKAN

Memang ada sedikit kemiripan antara label dan nama julukan. Keduanya sama-sama merupakan penilaian seseorang kepada orang lain. Bedanya julukan adalah memberi nama lain selain nama aslinya sebagai kehormatan ataupun ledekan. Posisi pemberi nama julukan juga umumnya sejajar. Label umumnya diberikan oleh orang-orang “di atas” anak seperti orangtua, guru, dan lain-lain dan berisi kata sifat yang menggambarkan perilaku anak. Contoh, kalau anak tidak bisa menguasai pelajaran dengan cepat langsung dilabel sebagai anak bodoh, anak yang memecahkan piring dicap anak nakal, dan sebagainya.

Kiat jitu agar anak mendengar

Berikut adalah beberapa tips, agar anak anda mendengar apa yang anda katakan.

Jangan mengancam

Pasalnya, setiap kali Anda memerintah atau memberi petuah dengan nada mengancam, jangan harap Anda akan didengar. “Cepat matikan teve. Sekarang, kan, waktunya belajar! Kalau enggak mau, Papa enggak kasih uang jajan lo!” Guna menghindari perintah bernada ancaman seperti ini, lebih baik sodorkan pilihan padanya. “Acara kartunnya bagus ya. Lima menit lagi selesai lo. Setelah itu Ibu temani kamu belajar ya.” Mintalah anak mengulangi apa yang Anda katakan, “Kak, Ibu barusan bilang apa ya?” Dengan demikian anak benar-benar tahu apa yang diperintahkan padanya dan tahu pula bahwa Anda sungguh-sungguh memintanya melakukan sesuatu.

 

Jangan lupa memberi perhatian

Termasuk perhatian pada apa yang dikatakan anak. Turunkan majalah yang tengah Anda baca, misalnya, atau alihkan sejenak pandangan dari penggorengan selagi Anda memasak. Segera tatap wajahnya ketika ia mengatakan sesuatu. Kalau Anda termasuk pendengar yang baik, buah hati tercinta kelak juga akan tumbuh menjadi pendengar yang baik.

 

Hindari penilaian negatif

Daripada menggerutu melihat apa yang salah semisal, “Kamarmu kok berantakan banget sih!”, bukankah lebih manis memberikan komentar positif yang tidak bernada menyalahkan. Contohnya, “Mainanmu kok tercecer di mana-mana ya. Kalau terinjak pasti rusak. Yuk, kita bereskan bareng-bareng.”

 

Membuat daftar tugas

Diskusikan bersama tugas-tugas apa saja, terutama menjelang berangkat sekolah, yang dapat dilakukan si anak tanpa perlu diperintah lagi. Di antaranya bangun tidur langsung membereskan tempat tidur, mandi dan sikat gigi sendiri, lalu sarapan bersama ayah sebelum berangkat bersama. Selanjutnya, apa saja tugas-tugas di setiap sore sepulang sekolah atau kursus dan setelah menyelesaikan PR. Selanjutnya, taruh jadwal ini di tempat yang mudah terlihat dan ditulis cukup besar. Jadi, setiap saat Anda bisa langsung menunjukkannya tanpa perlu berdebat panjang lebar dengannya.

 

Jangan lupa memuji

Pujilah setiap kali ia berhasil menjadi pendengar yang baik. Di usia sekolah dasar, anak sangat suka menonjolkan kemandiriannya, tapi di lain pihak mereka juga ingin menyenangkan orangtuanya. Jadi, setiap kali ia mengerjakan tugasnya tanpa disuruh atau mengerjakan permintaan Anda dengan sigap, pujilah dengan tulus.

 

Tips Anak Belajar Hidup Teratur

Mungkin kita selama ini sudah mengetahui bahwa hidup yang teratur, artinya tertata dengan baik, adalah kunci kesuksesan di kehidupan sehari-hari. Agenda hidup yang baik bisa berefek positif di mana pun kita berada, baik itu di kantor maupun di sekolah. Beruntunglah Anda yang secara alami sudah mempunyai sifat senang menata segala sesuatu dengan baik dan teratur. Bagaimana dengan anak Anda? Apakah mereka juga senang menjalani hidup dengan rapih? Kalaupun belum menyukai, Anda jangan kuatir. Anda dapat membantu mereka belajar untuk hidup lebih teratur dengan sepuluh langkah di bawah ini.

 

Mulailah dari daftar pekerjaan

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membantu si kecil membuat daftar pekerjaan yang akan dilakukan hari ini. Anda berdua dapat menggunakan daftar untuk mengecek tugas, pekerjaan rumah dan hal-hal lainnya yang harus dibawa ke sekolah misalnya. Sebaiknya daftar tersebut ditulis dalam sebuah buku atau notes tersendiri. Mencoret atau memberi tanda pada suatu pekerjaan yang telah dilakukan dapat memberikan kepuasan tersendiri pada si kecil.

 

Mengatur Pekerjaan Rumah

Sebelum memulai pekerjaan rumah, ajak anak Anda untuk mengatur dahulu dengan memberi nomor pada setiap pekerjaan rumah yang ada. Pemberian nomor ini berguna untuk menentukan pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dulu. Sebaiknya mulailah dari tugas yang tidak terlalu panjang atau susah dulu, tapi hindari meletakkan tugas yang terlalu berat di urutan terakhir.

 

Merancang ruang belajar

Buatlah tempat belajar yang nyaman sehingga si kecil tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk belajar. Lokasi belajar juga tidak selalu harus di kamar tidur, yang terpenting tempat tersebut harus cukup tenang dan jauh dari kegiatan-kegiatan yang mungkin dapat menganggu konsentrasi. Usahakan agar perkakas belajar selalu berada dalam jangkauan. Lebih baik lagi kalau si kecil mau belajar dengan didampingi Anda, karena dengan begitu Anda dapat memantau aktifitasnya sekaligus memberinya semangat.

 

Menetapkan waktu belajar

Sediakan selalu waktu khusus untuk belajar setiap hari. Sebaiknya beberapa jam setelah anak Anda pulang sekolah sehingga dia bisa beristirahat dan memulihkan tenaga. Jangan lupa untuk melibatkan si kecil dalam pemilihan waktunya. Apabila tidak ada pekerjaan rumah, waktu khusus tersebut dapat diisi untuk membaca ulang pelajaran sekolah tadi pagi, membaca santai atau mengerjakan proyek sekolah berikutnya.

 

Menyimpan catatan yang rapih

Bantulah si kecil mengatur dan menyimpan catatan pelajarannya dalam sebuah buku atau binder. Pisahkan pada setiap mata pelajarannya dengan kertas pembatas, atau gunakan buku tersendiri untuk setiap mata pelajarannya. Sebaiknya simpan pada folder yang terpisah mana tugas yang akan dan sudah dikerjakan, demikian pula halnya dengan lembar ulangan yang sudah diberi nilai.

 

Biasakan ‘sweeping’ setiap minggu

Ajak si kecil untuk menyortir isi tas dan lemari setiap minggunya. Kumpulkan lembar-lembar tugas dan ulangan serta catatan dalam folder yang terpisah.

 

Buat jadwal kegiatan di rumah

Cobalah untuk membuat jadwal makan dan tidur yang rutin sehingga anak Anda secara langsung akan terbiasa dengan pola yang teratur. Anak yang mempunyai waktu tidur baik akan mempunyai tenaga yang cukup untuk ke sekolah esok harinya. Usahakan pula untuk membatasi waktu menonton televisi dan bermain games.

 

Buatlah kalender keluarga

Kalender keluarga akan sangat berguna untuk menyimpan segala macam jadwal aktifitas seluruh anggota keluarga, mulai dari jadwal kegiatan ekstra kurikuler, liburan sekolah, ulangan umum sampai kegiatan besar keluarga atau sekolah. Agenda terbuka ini akan membantu seluruh anggota keluarga untuk mengecek kegiatannya masing-masing, dan yang terpenting menghindari konflik akibat benturan alokasi waktu yang bersamaan.

 

Siapakan esok hari dengan terencana

Sebelum anak Anda pergi tidur, biasakan untuk menyiapkan terlebih dahulu tugas dan buku yang harus dibawa keesokan harinya. Begitu juga dengan pakaian yang akan dipakai beserta asesoris dan kaos kaki yang akan dikenakan. Persiapan yang matang akan membuat si kecil dapat pergi ke sekolah lebih cepat dan dini tanpa harus tergesa-gesa.

 

Bantulah terus anak Anda belajar hidup teratur

Supaya si kecil menjadi terbiasa hidup teratur cobalah tempel salinan daftar pekerjaannya, seperti yang disebutkan di no.1, pada pintu lemari es. Otomatis dia akan selalu teringat terus akan apa yang harus dikerjakan. Ingatkan dengan lembut untuk selalu menyimpan rapih segala macam lembar tugas, catatan dan ulangan dalam folder tersendiri. Terakhir, berikan si kecil contoh yang baik, yaitu dimulai dari Anda sendiri.

 

Sumber : Tips for Developing Organizational Skills in Children, http://www.familyeducation.com, 2003.

Tidak Ada Anak ‘Bodoh’

Anak yang memiliki nilai kurang dalam suatu mata pelajaran misalnya matematika atau bahasa, belum tentu ia ‘kurang’ dalam hal lain. Hindarkan tergesa-gesa mencap ‘bodoh’ pada anak. Menurut teori gardner 1983, pada diri anak terdapat kemampuan lain yang dapat digali oleh pendidik (orangtua dan guru) yaitu, kecerdasan bahasa, matematika, kinestetik, musik, spasial, intrapersonal, interpesonal, dan naturalis.

Di bawah ini adalah beberapa upaya yang dapat orangtua atau guru lakukan untuk menggali kemampuan kecerdasan anak, yaitu:

Kecerdasan Linguistik atau Bahasa

Kenalkan anak pada buku-buku cerita bergambar.

Bacakan dongeng dan suruh anak untuk mengulang isi dongeng terebut.

Mintalah anak untuk menceritakan pengalamannya di sekolah atau tempat bermainnya.

 

Kecerdasan Logis Matematis

Mengenalkan bentuk angka, penjumlahan dan pengurangan ringan misalnya berhitung dengan jari atau mainan angka

Berikan anak permainan yang memerlukan pemikiran, seperti ular tangga

Ajaklah anak melakukan eksperimen dengan benda padat seperti es bisa berubah menjadi air.

 

Kecerdasan Spasial

Untuk melatih imajinasi anak, biasakan ia mendengarkan dongeng tanpa gambar misalnya di radio.

Beri permainan yang dapat mengasah kecerdasan spasialnya seperti puzzle atau menggambar sesuai dengan minatnya.

Latih anak ntuk membayangkan suatu benda dengan menutup matanya.

 

Kecerdasan Kinestetik Jasmani

Libatkan dalam kegiatan atau pemainan yang membutuhkan aktivitas fisik seperti main tali, mengikat tali sepatu atau masukkan dalam klub olah raga.

Latih gerak motoriknya misalnya melepas kancing pakaian,membentuk tanah liat dan membangun sesuatu dengan balok-balok.

 

Kecerdasan Musik

Ajak anak untuk mengubah syair lagu.

Menghafal lagu-lagu yang sesuai dengan usianya.

Motivasi anak agar masuk klub musik.

Perkenalkan dengan alat-alat musik tertentu.

 

Kecerdasan Interpersonal

Agar tumbuh sikap empati ajaklah anak menengok keluarga yang terkena musibah.

 

Mengajarkan utuk berbagi dengan saudara ataupun teman (misalnya makanan).

Membangun kepercayaan diri anak misalnya dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai lomba atau tampil di depan umum misalnya di ulang tahun temannya.

Membiasakan anak untuk menyapa atau memberi salam pada orang lain terlebih dahulu.

 

Kecerdasan Intrapersonal

Tanyakan sesering mungkin tentang perasaan anak anda jika ekspresi wajahnya terlihat berubah.

 

Berikan pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri oleh anak misalnya mewarnai gambar atau merapikan piring-piring plastik.

Bimbing anak agar mengenali dirinya sendiri seperti menggambar wajah tentang kondisi perasaannya (wajah sedih, gembira, marah).

 

Kecerdasan Naturalis (Alam)

Ajaklah anak untuk melakukan kegiatan di luar rumah seperti berkebun, menyiram tanaman, melihat serangga.

Kenalkan benda-benda alam yang ada di sekitarnya seperti batu, daun atau nama berbagai jenis tanaman).

Biarkan anak memelihara binatang seperti kucing, hamster (semacam marmut), ikan, kura-kura.

Ajaklah anak untuk menonton film flora dan fauna.

 

Membesarkan Anak Yang Kreatif


 

Ibu dan ayah yang ingin membesarkan ‘Michel Angelo’ baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar ‘membiarkan mereka’ akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society.

Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Biarkan kreativitas mereka berkembang

Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti “bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?”. Semakin banyak ataupun semakin ‘asing’ jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.

Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak merekasaat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orangtua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan ‘memungkinkan’, akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. ” ‘Memungkinkan’ berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu,” Grubb menjelaskan.

Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang ‘memungkinkan’ bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi justru – meskipun tidak besar – cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. “Malah gaya ‘memungkinkan’ ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap ‘memaksa’, yang membuat orang tua sering berkata: “Jangan begitu, lakukan seperti ini”, dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya,” kata Grubb.

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orangtua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ?

Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.

Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yangtelah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.

Sumber : satumed.com