Hati-hati, Hati

Mungkin hanya sepintas kilas kalimat atau pengulangan kata yang sangat sering diucapkan oleh siapa pun.

Tapi “hati-hati” menjadi begitu spesial ketika pertama kali saya dengar dari suara seorang lelaki tua yang begitu dingin, di kejauhan sana.

Saat itu kehangatan mengalir hingga pelosok kalbu.

Tapi saya merasakan getar khawatir pada sekilas ucap “hati-hati”-nya. Bagaimana pun, dia mengkhawatirkan saya. Ternyata.

“Hati-hati” bagi saya cukup mewakili segala perasaannya yang terlalu gengsi untuk disampaikan.

Kehangatan yang sekilas, cukup membuat air mata meleleh.

Cukup. Buat saya itu sudah sangat cukup mewakili segalanya.

Dan kamu, tak pernah sekali pun lupa untuk mengatakan “hati-hati” yang selalu membuat aku tersenyum.

-2015

Iklan

Ampas Kopi dan Batas Tepi

Berlian lima karat, katamu

Bukankah tai kucing yang masam itu juga bisa menjadikan besi (ber)karat?

Aku tak butuh apa pun tentang karat

Cukup seduhkan kopi di pagi hari, kemudian aku akan mencumbunya sembari tersenyum

Kamu,

Seperti biasa, akan membuang muka

Sesap

Dan terus menyesap

Kenangan merayap

Mata kita melirik pada yang sama

Teguk terakhir…

Ampas kopi

Batas tepi

Dan kita berbagi teguk terakhir

Dengan endapan ampas kopi

Kita

Membagi teguk akhir

Melihat batas tepi

Kemudian kopi diseduh, lagi

Kita sesap, lagi

Rasanya aku tak perlu melirik cangkir kopi

Karena kita akan terus dan terus menyamarkan batas tepi

​Mendakilah, Nak…

Gapai puncak cakrawala Nuswantara
Merangkaklah pada setiap kaki langit

Nafasmu akan tersengal

Keringatmu sudah terlanjur kering oleh oksigen yang menipis
Mendakilah…

Pada mimpi-mimpi

Pada cita-cita

Pada angan-angan
Bunda hanya menghantarkan kamu pada dunia

Pada ilmu kebaikan

Pada ilmu semesta
Dan kehidupan ini sudah menjadi tanggung jawabmu

Jangan pernah terbelenggu oleh rasa takut

Karena Bunda akan selalu mendukungmu
Selamat tambah tua, Nak

Karena waktu adalah takdir yang tak bisa dilawan

Tapi kita, bisa melawan takdir

Riwayat Usang Tentang Pernikahan

Pernikahan…
“Selamat menempuh hidup baru ya….”
“Senangnya….akhirnya menikah…”
“Pernikahan adalah gerbang kebahagiaan.”
Dan masih banyak ungkapan-ungkapan yang memberi selamat atas pernikahan.
Bukan…ini bukan pernikahanku.

Genap 10 tahun aku menyudahi hidup dalam balutan pernikahan. Selama itu juga hidupku hanya tentang anak dan pekerjaan. Sepi? Sendiri? Tidak kok… walaupun begitu banyak nama, begitu banyak wajah dan entah berapa banyak cinta mengalir dan terbuang, tetap membuatku tidak berani mengambil keputusan untuk menikah lagi.

Bertemu…
Bicara…
Berpegangan tangan…
Berciuman…
Bercinta…
Manusia bertemu dan bicara, kemudian berciuman, lantas bercinta.

Saling mencintai
Berpasangan atau berpacaran
Menikah…
Mungkin proses seperti ini yang dilakukan oleh banyak manusia hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Walaupun, mungkin saja masih ada yang dijodohkan oleh orang tuanya. Bagaimanapun juga, proses seperti inilah yang akhirnya menjadi penentu kehidupan yang memiliki proses normal.

Lalu…pernikahan berjalan hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Hingga tanpa disadari pernikahan hanya sekedar melaksanakan kewajiban dan hak. Tidak melaksanakan kewajibannya, maka hakpun akan terbang melayang. Pernikahan pun menjadi rutinitas dan hambar, berperan sebagai pasangan suami istri yang harmonis di depan keluarga dan kerabat lainnya, sampai mencari kenyamanan di luar yang entah apapun itu bentuknya.

Cerita usang!!!

“Aku mencintai istriku, tapi bukan pernikahan seperti ini yang aku bayangkan. Sosok seperti kamu yang aku damba selama ini.”
“Dasar pria bersitri!” Batinku memaki

Biduk pernikahan, bahkan yang terlihat harmonis sekalipun, memiliki banyak pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Lalu kami berciuman…

Berpulang ke Rumah

Jadi…rumah ini hidup dalam ketidakpercayaan…

Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki ke tempat, yang disebut rumah. Tidak ada perubahan sedikitpun, hingga hawa ketidakpercayaan yang begitu kental menyelimuti rumah inipun tidak berubah. Rumah model tahun 80-an dengan tatanan interior berantakan tidak memiliki tema.

Membuka alas kaki sebelum memasuki pintu rumah ini, terasa…lantai begitu dingin, hingga ke relung hati karena tatapan dingin dari penghuni rumah. Terasa ngilu dan sakit ketika mencoba melawan dingin di relung hati, tanpa sadar lutut ini gemetar. Berusaha tegar dan tetap tersenyum melewati tatapan dingin mereka.

Hanya ada dua kehangatan dalam rumah ini, kehangatan itu datang dari bocah-bocah yang masih belum mengerti tentang ketidakpercayaan. Mungkin bocah satunya sudah beranjak remaja dan…mungkin saja sedikit banyaknya mulai tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini. Tapi keyakinan ini hanya ada pada bocah paling kecil, sangat yakin…dia tidak tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini.

Menatap sekeliling ruang…tidak ada jiwa melekat pada ruang ini, tidak ada sedikitpun kenyamanan tercipta dalam rumah ini. Apa tidak bisa disebut nyaman hanya dengan bersih? Ya…nyaman bukan juga sekedar bersih, mewah, megah bahkan mahal sekalipun. Tapi nyaman tercipta dari penghuni rumah…

Terlihat ada bekas koyak pada daun pintu kamar, ada peristiwa… pada koyakan daun pintu kamar ini. Kemarahan terasa pada daun pintu koyak ini, entah seberapa besar tenaga yang digunakan untuk sekedar mengkoyak daun pintu ini. Tak pernah terbayangkan…rumah yang dingin dan penuh dengan kecurigaan ini bisa menyimpan kemarahan yang cukup besar. Apa mungkin kemarahan dalam rumah ini yang bisa menghangatkan dinginnya?

Entahlah…rumah ini ramai tapi bukan oleh riuh rendahnya tawa antar penghuni, bukan dari suara percakapan antar penghuni…entah… Rumah ini hanya ramai oleh suara alat elektronik dari masing-masing kamar, hanya ramai oleh suara alat masak di daerah dapur dan…hanya ramai oleh suara kucing tetangga. Seringkali terdengar pecakapan antar penghuni…yang berupa bentakan dan amarah, ataupun adanya percakapan dan gelak tawa…itupun terhadapa tamu atau tetangga yang berkunjung.

Ya…inilah rumah yang hidup dalam ketidak percayaan…

Semua tertutup rapat, semua terkunci dengan rapih dalam ruang pribadi masing-masing. Bahkan hati merekapun tertutup dari yang namanya kehangatan sehingga tidak tercipta lagi kehangatan antar penghuni. Saling curiga satu sama lain, saling tuduh satu sama lain dan saling menuding satu sama lain.

Maka tak ada ruang sedikitpun untuk bisa saling memberi kepercayaan pada penghuni. Bahkan mereka…penghuni…saling memiliki keterikatan bahwa mereka semua terikat dalam tali persaudaraan…

Inilah langkahku dalam ruang berpulang ke rumah…entahlah…

Mengabdi

Mengabdi dan Sing Terimo…

Ya..itu adalah pesan dari eyangku, “Mba, kalau kamu nanti menikah jadilah istri yang mengabdi dan sing terimo sama suamimu.”

Ketika aku menikah…sulit bagiku untuk bisa memahami kata ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Karena kata ‘mengabdi’ terkesan aku tidak bisa mengerjakan apa2 yang menjadi keinginanku dan hanya bertekuk lutut depan suami. Apalagi memahami kata ‘sing terimo’, seolah2 itu aku harus terima nasib klo suami tuh begitu aja…Akhirnya…aku berproses pada situasi, aku berpisah.

Dalam proses perjalanan hidup aku sebelum menikah, eyang pun pernah berpesan, “Mba, jadi perempuan harus pinter, bisa kerja dan mengejar karir tapi jangan pernah melupakan kodrat sebagai wanita dalam rumah tangga. Seperti masak, bersih-bersih dan ngurus anak.”

Kebayang kan…pesan seperti itu disampaikan oleh eyang pada saat aku masih SMA. Di mana aku masih memiliki sedikit pemahaman dalam hal itu. Dan memang…eyang terus dan terus mendidik aku untuk mau belajar masak, mengenal dan membuat jamu dan urusan rumah tangga lainnya. Yang menurut aku pada saat itu semacam beban yang aku harus jalanin.

Semua berproses…dan aku merasakan banyak manfaat dari apa yang eyang ajarkan. Mungkin tidak banyak yang percaya kalau melihat penampilan dan gayaku yang seperti ini, tetapi aku sedikitnya bisa masak dan sangat kolot masalah pengobatan. Karena aku diajarkan oleh eyang untuk tidak banyak mengkonsumsi obat-obatan yang banyak mengandung bahan kimia.

Lalu…selama bertahun-tahun prosespun membuat aku melek dengan pemahaman ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Walaupun mungkin, setiap orang dengan prosesnya masing-masing akan menemukan pemahaman yang berbeda dan tidak bisa ada yang saling membenarkan atau saling menyalahkan… Dan proses juga yang menyadarkan aku tentang pemahaman pasangan.

Mengabdi…aku akan mengabdi pada pasanganku kelak dengan caraku sendiri. Karena mengabdi adalah bentuk pembuktian bahwa aku mencintai pasanganku.

Sing Terimo…maka aku akan menerima seutuhnya pasanganku, entah apa itu kata orang tentang baik dan buruknya diri pasanganku, maka seutuhnya baik perwujudan tak kasat mata maupun perwujudan kasat mata, sepenuh hati aku akan menerimanya.

Ya…sampai titik saat ini, aku sudah sangat siap untuk ‘Mengabdi’ dan ‘Sing Terimo’ pada (siapapun) pasanganku kelak. Sebuah pengaharapan padanya, semoga…