Riwayat Usang Tentang Pernikahan

Pernikahan…
“Selamat menempuh hidup baru ya….”
“Senangnya….akhirnya menikah…”
“Pernikahan adalah gerbang kebahagiaan.”
Dan masih banyak ungkapan-ungkapan yang memberi selamat atas pernikahan.
Bukan…ini bukan pernikahanku.

Genap 10 tahun aku menyudahi hidup dalam balutan pernikahan. Selama itu juga hidupku hanya tentang anak dan pekerjaan. Sepi? Sendiri? Tidak kok… walaupun begitu banyak nama, begitu banyak wajah dan entah berapa banyak cinta mengalir dan terbuang, tetap membuatku tidak berani mengambil keputusan untuk menikah lagi.

Bertemu…
Bicara…
Berpegangan tangan…
Berciuman…
Bercinta…
Manusia bertemu dan bicara, kemudian berciuman, lantas bercinta.

Saling mencintai
Berpasangan atau berpacaran
Menikah…
Mungkin proses seperti ini yang dilakukan oleh banyak manusia hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Walaupun, mungkin saja masih ada yang dijodohkan oleh orang tuanya. Bagaimanapun juga, proses seperti inilah yang akhirnya menjadi penentu kehidupan yang memiliki proses normal.

Lalu…pernikahan berjalan hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Hingga tanpa disadari pernikahan hanya sekedar melaksanakan kewajiban dan hak. Tidak melaksanakan kewajibannya, maka hakpun akan terbang melayang. Pernikahan pun menjadi rutinitas dan hambar, berperan sebagai pasangan suami istri yang harmonis di depan keluarga dan kerabat lainnya, sampai mencari kenyamanan di luar yang entah apapun itu bentuknya.

Cerita usang!!!

“Aku mencintai istriku, tapi bukan pernikahan seperti ini yang aku bayangkan. Sosok seperti kamu yang aku damba selama ini.”
“Dasar pria bersitri!” Batinku memaki

Biduk pernikahan, bahkan yang terlihat harmonis sekalipun, memiliki banyak pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Lalu kami berciuman…

Berpulang ke Rumah

Jadi…rumah ini hidup dalam ketidakpercayaan…

Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki ke tempat, yang disebut rumah. Tidak ada perubahan sedikitpun, hingga hawa ketidakpercayaan yang begitu kental menyelimuti rumah inipun tidak berubah. Rumah model tahun 80-an dengan tatanan interior berantakan tidak memiliki tema.

Membuka alas kaki sebelum memasuki pintu rumah ini, terasa…lantai begitu dingin, hingga ke relung hati karena tatapan dingin dari penghuni rumah. Terasa ngilu dan sakit ketika mencoba melawan dingin di relung hati, tanpa sadar lutut ini gemetar. Berusaha tegar dan tetap tersenyum melewati tatapan dingin mereka.

Hanya ada dua kehangatan dalam rumah ini, kehangatan itu datang dari bocah-bocah yang masih belum mengerti tentang ketidakpercayaan. Mungkin bocah satunya sudah beranjak remaja dan…mungkin saja sedikit banyaknya mulai tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini. Tapi keyakinan ini hanya ada pada bocah paling kecil, sangat yakin…dia tidak tercemari oleh ketidakpercayaan yang hidup dalam rumah ini.

Menatap sekeliling ruang…tidak ada jiwa melekat pada ruang ini, tidak ada sedikitpun kenyamanan tercipta dalam rumah ini. Apa tidak bisa disebut nyaman hanya dengan bersih? Ya…nyaman bukan juga sekedar bersih, mewah, megah bahkan mahal sekalipun. Tapi nyaman tercipta dari penghuni rumah…

Terlihat ada bekas koyak pada daun pintu kamar, ada peristiwa… pada koyakan daun pintu kamar ini. Kemarahan terasa pada daun pintu koyak ini, entah seberapa besar tenaga yang digunakan untuk sekedar mengkoyak daun pintu ini. Tak pernah terbayangkan…rumah yang dingin dan penuh dengan kecurigaan ini bisa menyimpan kemarahan yang cukup besar. Apa mungkin kemarahan dalam rumah ini yang bisa menghangatkan dinginnya?

Entahlah…rumah ini ramai tapi bukan oleh riuh rendahnya tawa antar penghuni, bukan dari suara percakapan antar penghuni…entah… Rumah ini hanya ramai oleh suara alat elektronik dari masing-masing kamar, hanya ramai oleh suara alat masak di daerah dapur dan…hanya ramai oleh suara kucing tetangga. Seringkali terdengar pecakapan antar penghuni…yang berupa bentakan dan amarah, ataupun adanya percakapan dan gelak tawa…itupun terhadapa tamu atau tetangga yang berkunjung.

Ya…inilah rumah yang hidup dalam ketidak percayaan…

Semua tertutup rapat, semua terkunci dengan rapih dalam ruang pribadi masing-masing. Bahkan hati merekapun tertutup dari yang namanya kehangatan sehingga tidak tercipta lagi kehangatan antar penghuni. Saling curiga satu sama lain, saling tuduh satu sama lain dan saling menuding satu sama lain.

Maka tak ada ruang sedikitpun untuk bisa saling memberi kepercayaan pada penghuni. Bahkan mereka…penghuni…saling memiliki keterikatan bahwa mereka semua terikat dalam tali persaudaraan…

Inilah langkahku dalam ruang berpulang ke rumah…entahlah…

Mengabdi

Mengabdi dan Sing Terimo…

Ya..itu adalah pesan dari eyangku, “Mba, kalau kamu nanti menikah jadilah istri yang mengabdi dan sing terimo sama suamimu.”

Ketika aku menikah…sulit bagiku untuk bisa memahami kata ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Karena kata ‘mengabdi’ terkesan aku tidak bisa mengerjakan apa2 yang menjadi keinginanku dan hanya bertekuk lutut depan suami. Apalagi memahami kata ‘sing terimo’, seolah2 itu aku harus terima nasib klo suami tuh begitu aja…Akhirnya…aku berproses pada situasi, aku berpisah.

Dalam proses perjalanan hidup aku sebelum menikah, eyang pun pernah berpesan, “Mba, jadi perempuan harus pinter, bisa kerja dan mengejar karir tapi jangan pernah melupakan kodrat sebagai wanita dalam rumah tangga. Seperti masak, bersih-bersih dan ngurus anak.”

Kebayang kan…pesan seperti itu disampaikan oleh eyang pada saat aku masih SMA. Di mana aku masih memiliki sedikit pemahaman dalam hal itu. Dan memang…eyang terus dan terus mendidik aku untuk mau belajar masak, mengenal dan membuat jamu dan urusan rumah tangga lainnya. Yang menurut aku pada saat itu semacam beban yang aku harus jalanin.

Semua berproses…dan aku merasakan banyak manfaat dari apa yang eyang ajarkan. Mungkin tidak banyak yang percaya kalau melihat penampilan dan gayaku yang seperti ini, tetapi aku sedikitnya bisa masak dan sangat kolot masalah pengobatan. Karena aku diajarkan oleh eyang untuk tidak banyak mengkonsumsi obat-obatan yang banyak mengandung bahan kimia.

Lalu…selama bertahun-tahun prosespun membuat aku melek dengan pemahaman ‘mengabdi’ dan ‘sing terimo’. Walaupun mungkin, setiap orang dengan prosesnya masing-masing akan menemukan pemahaman yang berbeda dan tidak bisa ada yang saling membenarkan atau saling menyalahkan… Dan proses juga yang menyadarkan aku tentang pemahaman pasangan.

Mengabdi…aku akan mengabdi pada pasanganku kelak dengan caraku sendiri. Karena mengabdi adalah bentuk pembuktian bahwa aku mencintai pasanganku.

Sing Terimo…maka aku akan menerima seutuhnya pasanganku, entah apa itu kata orang tentang baik dan buruknya diri pasanganku, maka seutuhnya baik perwujudan tak kasat mata maupun perwujudan kasat mata, sepenuh hati aku akan menerimanya.

Ya…sampai titik saat ini, aku sudah sangat siap untuk ‘Mengabdi’ dan ‘Sing Terimo’ pada (siapapun) pasanganku kelak. Sebuah pengaharapan padanya, semoga…

Kehidupan yang normal itu tidak ada

Kalimat ini gue temuin ada di halaman pertama sebuah novel yang tadi pagi mau gue baca, karya Richard Farrel. Kalimat pembuka itu lengkapnya:

Kehidupan yang normal itu tidak ada.

Yang ada hanya kehidupan itu saja. Sekarang selesaikan.

Simpel…tapi lumayan menohok untuk direnungkan. Terkadang hal yang sederhana, bisa membuat kita memiliki pemikiran liar dan berimajinasi liar, tapi jangan sampai berhalusinasi liar 😀

Dengan status gue sebagai Single Parent (udah jd veteran inih, klo kerjaan katanya udah masuk kelas pro #ngok), gue sering denger keluhan dari temen seperjuangan yang isinya ga jauh beda dan kurang lebih isinya : “Aku pengen balik ke kehidupan yang normal.” Ya…normal, kehidupan normal…

Gue sering tercenung menghadapi pernyataan seperti itu. Sebenernya normal dan tidak normal itu apa sih? Dan siapa juga yang mengkategorikan bahwa ada kehidupan yang normal dan ada kehidupan yang tidak normal.

Sedari kecil kita sering mendapatkan pertanyaan dan soal-soal di mata pelajaran, tentang bentuk keluarga ideal itu seperti apa. Yang pada akhirnya itu menjadi sebuah bentuk imajiner di mata masyarakat bahwa kehidupan yang normal adalah menikah, memiliki istri atau suami dan memiliki anak. Itu menjadi patokan bahwa suatu kehidupan dianggap normal.

Lalu…ketika semua berjalan dan ada ketidak sesuaian, baik itu disadari maupun tidak disadari, apakah itu sudah masuk ke kategri kehidupan yang tidak normal? Di sini maksudnya adalah, ketika Tuhan menginginkan pasangan kita terlebih dahulu menghadap-Nya atau mungkin kita berpisah karena adanya hal-hal yang sudah tidak bisa disepakati, apakah itu juga termasuk tidak normal? Lalu bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak menikah, apakah itu juga masuk kategori tidak normal?

Bagi gue…itu semua normal kok, itu semua bagian dari kehidupan yang siap tidak siap, mau tidak mau bisa terjadi pada siapa saja dan itupun masuk dalam kategori normal. Karena…terkadang hidup tidak menyisakan banyak pilihan. Yang terbaik adalah menjalankan semua yang sudah menjadi ketetapanNya dengan tulus dan ikhlas. Karena dengan membuka peluang untuk mengeluh tentang kehidupan, sama saja dengan kita sudah tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan.

Mengagungkan Kebendaan

Benda…yang diciptakan untuk membantu manusia dalam mempermudah dalam berkegiatan… Tapi…saat ini manusia terjebak pada nilai kebendaan tersebut.
 
Mobil, rumah, gadget dan masih banyak benda lainnya. Mungkin dengan nama yang sama, kegunaan dasar yang sama, tetapi memiliki kemasan dan fitu-fitur yang jauh lebih menarik dan pastinya ditunjang dengan perbedaan harga, maka nilai pengakuan di mata masyarakat secara umum akan berbeda.
 
Yang sangat menarik terjadi di masalah sosial saat ini adalah fenomena smartphone yang memiliki slogan : Mendekatkan yang jauh dan menjuhkan yang dekat. Dengan smartphone dan berbagai macam aplikasi situs jejaring sosial, ruang dan jarak semua akan terasa dekat. Tapi mereka tidak sadar…mereka sedang menciptakan ruang pada kehidupan sosial nyata mereka.
 
Ketergantungan manusia akan kebendaan ini menimbulkan ketidaksadaran, bahwa mereka sedang diperbudak. Entah diperbudak dengan hal duniawi, entah diperbudak oleh brand dari kebendaan tersebut bahkan mungkin saja mereka sedang diperbudak oleh ego mereka sendiri. Nilai pengakuan di mata masyarakat pada umumnya, masih menilai dari kepemilikan kebendaan tersebut. Mungkin…sebagian manusia masih menganggap nilai kesuksesan mereka karena memiliki kebendaan tersebut. Ironis.
 
Kebendaan itu sangat nyata wujudnya, dipegangpun akan terasa teksturnya. Sekali melihat kebendaan tersebut sudah pasti dapat menilai harga prestise yang dikeluarkan. Tapi…sadarkah mereka…kebendaan yang nyata itu jauh lebih semu dari benda yang sifatnya semu. Ketika sutradara Maha Agung menginginkan semua itu musnah, maka semua akan musnah dalam sekejap. Ketika sutradara Maha Agung menginginka untuk mengambil ruh dari pemilik kebendaan tersebut, apakah semua kebendaan akan di bawa menghadap sutradara Maha Agung?
 
 
 
muak…penat…ketika semua orang hanya melihat dari mobil apa yg kamu bawa, smartphone apa yang kamu pake. muak…ketika semua orang masih sibuk melihat dari atas ke bawah sambil bertanya-tanya dipikirannya: bajunya merk apa…
 
 

Waktu Kita Hanya Sebentar

Waktu kita hanya sebentar…

Kalimat ini berulang-ulang dikatakan oleh tanteku. Mengingat peranku sebagai single mom, pekerja dan menjadi diri sendiri…yang mungkin kedepannya akan menjadi pasangan dari pria yang kucinta.

Sangat ga kerasa, aku sudah melewati peran ibu hampir 13 tahun umur anakku. Terasa sangat singkat dan terasa masih  kurang dalam memberi bekal hidup pada anak. Dan juga ga kerasa…sebentar lagi dia akan menjadi pria dewasa yang memiliki tanggung jawab sendiri. Yang paling luar biasa adalah…hampir 9 tahun aku menjadi single mom…

Menyadari hal ini…membuat aku tersadar, bahwa waktu berjalan tanpa kita sadari, waktu berjalan terus tanpa menunggu kita. Lalu apakah kita sudah memanfaatkan waktu yang singkat ini? Memanfaatkan dengan kita berperan sebagaimana mestinya, memanfaatkan dengan kita mengetahui tujuan dari perjalanan waktu dan juga memanfaatkan setiap detik momment yang  hadri di hadapan kita.

Ketika waktu tidak terbayar dengan uang….ketika waktu tidak terbayar dengan kepintaran kita…. Yang akan menghampiri kita adalah penyesalan.

Hargai…siapapun itu yang hadir dalam hidup kita, nikmati setiap detik momment yang hadir dihadapanmu. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita untuk BERPULANG dengan damai. 🙂

Hanya waktu yang aku miliki untuk kalian, teruntuk 2 pria yang aku cintai. Love you both :*