Tanda Baca Yang Tak Bisa Kau Baca

Kita sering berikirm pesan singkat
Hampir setiap hari
Sekedar tegur sapa
Obrolan ringan yang tidak berkesudahan
Kadang, berkeluh kesah tentang pekerjaanmu
Tentang…kekasihmu
Pesan singkat kita selalu ditutup dengan ungkapan betapa saling merindu

Sering kali tanda baca sedih yang ingin kusampaikan
Tapi, lagi-lagi tanda baca senyum yang kukirimkan untukmu

Setiap kukirim tanda baca senyum
“Basa-basi” ujarmu
Kamu selalu tidak suka bila dikirim tanda baca senyum

Kekasihku,
Aku hanya bisa menyembunyikan kesedihan ini melalui tanda baca yang kukirim
Kita tidak pernah tahu tanda baca apa yang akan menghiasi kehidupan kita nantinya
Akankah terus menggunakan koma, atau titik

Kekasihku,
Kamu berbahagialah, serahkan seluruh kesedihanmu padaku
Karena kesedihan akan selalu menjadi urusanku yang tak pernah usai

Kesedihan, selalu menjadi temanku pada akhirnya.
Kamu salah, Lakiku. Kesedihan ini lebih senang bermain di relung hatiku…

Melihat Punggungmu

Aku akan selalu mengusik tidurmu
Dengan menghujani kecupan
Kamu mendengus
Seolah-olah kesal, katamu
Aku tetap mengendus, kemudian membalikkan badan
Kalau-kalau kamu terusik

Tak lama, kamu eratkan tubuhku
Tapi, mungkin kamu tidak tahu
-akhirnya pun tahu-
Lelapku sering terbangun
Oleh hangatnya kecupan di mata, di hidung…
Aku berpura-pura lelap sembari menikmati kecupanmu

Lain cerita…
bahagiaku menikmati langkah denganmu

“Langkahku terlalu cepat ya?” Katamu
Aku mendongak, dan hanya menggeleng

Aku sengaja melambatkan langkah
Agar tak lekas tiba
Aku sengaja melambatkan langkah
Agar bisa lebih lama denganmu
Aku sengaja melambatkan langkah
Agar bisa melihat punggungmu

ingin rasanya membunuh waktu yang berdetak tepat di nadi

Cerita Tentang Sepasang Jalang

Pada malam yang paling kelam
Diam-diam sepasang jalang merayap dari mimpi

Jalang lelaki, begitu gagah
Jalang paling tampan yang pernah ada
Jalang perempuan, selalu tersenyum
Jalang dengan sorot mata kesedihan

Lihat, katamu
Kita berperan sebagai sepasang jalang
Matamu berbinar, mencari-cari yang sudah pasti hanya mimpi dalam diriku
Bisakah kita terus menikmati keliaran ini?

Sementara kita selalu saja meyakini:
Hudup ialah bagaimana Tuhan menyusun kebetulan demi kebetulan, isyarat demi isyarat, dengan manis
Bahkan, katamu
Pertemuan sepasang jalang pun begitu manis

Barangkali, suatu hari –atau hari ini pun- -kita saling merindukan percakapan- -yang hanya kita yang mengerti- -menjelang dini hari

September 2015

Pujangga dan Sajak

Akan ada pujangga tanpa sajak
Akan ada pula pembual dengan syair
Semua yang datang dan pergi
Yang menangis dan tertawa

Manusia hanya satu dari kehidupan
Tapi kehidupan banyak dihabiskan oleh manusia
Yang tidak memahami
Yang memahami

Sajak ibarat sampah
Tapi sampah bukan sajak
Semua sudah menjadi ketetapan
Dan aku berdiri dengan kaki tak berpijak

Coba katakan
Apakah setiap pujangga itu sama ??
Jawabnya adalah
Benar

Pujangga,
Aku cemburu tapi juga rindu padamu
Sehari saja tak membaca syairmu, seperti kehilangan senja

Punjangga,
Apakah syairmu hanya untukku?
Jika puisi cintamu palsu,
Akan kucolok matamu…

November 2014

Membeli Duka Yang Sama

Kita pernah berbagi payung di kota yang penuh rindu pada senja yang dihujani air mata
Saat itu kita tersenyum menikmati pahitnya jamu kehidupan sambil menghitung tetesan air mata

“Bisakah kamu terus mengingatku nanti?” Pintamu
Aku hanya membalas dengan senyuman
Kemudian kita sepakat untuk membeli duka yang sama

Elegi Waktu

Kapankah waktu kita usai?
Tentang senyuman-senyuman sebagai hadiah dari waktu yang kita ciptakan
Selalu menyimpan kata yang tak terucap

Aku, perempuan yang terbujur kaku oleh detikan waktu
Terus menghitung dan menunggu
Dilapukkan senyuman yang terus kuingat
Tanpa cahaya
Memendam rahasia yang tertinggal

Kutemui bayang wajahku dari balik matamu
Lalu kupunguti rindu satu persatu yang melewati waktu, tergurat dalam ribuan kata-kata sajak
Kuhempaskan asa lain untuk mendapatkan rembulanmu

Pagi ini,
Kutitipkan lagi rindu untukmu pada mentari
Agar makhluk langit cemburu pada kita

ada pagi bersamamu pada bulan september yang sering disebut ceria