Rumahku Adalah Kamu

Percakapan dini hari antara aku dan kamu
Lagi-lagi jarak terbentang di antara kita
Kali ini aku merindukan tempat yang disebut rumah
Seperti bait sajak ketika kita pertama menitipkan ciuman-ciuman
“Rinduku pada pria yang menatapku dalam, ketika kutanya: apa makna rumah bagimu? Dan tanpa ragu dia menjawab: Kamu.”
Sepertimu, bait sajak serupa tertuang bersamaan

Sewindu lebih kita menanak rindu
Beranak pinak tak berkesudahan
Rindu begitu egois
Terus bertambah
Tanpa kita ketahui cara mengurangi

Tak sekali kucoba asa pada yang lain
“Carilah kebahagiaanmu.” Ucapmu
Dan kecemburuan pun mendera dirimu

Adalah aku tak mampu berpaling
Lagi-lagi
Aku kembali dalam pelukmu
Lagi-lagi
Dadamu begitu lapang menerimaku

Sejak sewindu aku begitu merindukanmu
Karena pada tatap matamu itu kutemukan rumah
Seperti sajakmu
“Rumahmu ada dimana-mana.
Pada rimbun belukar.
Atau sajak-sajak liar.
Rumahmu ada dimana-mana.
Pada hangat dada seorang lelaki pejalan.
Atau larik puisi penyair kesepian.
Ya, rumahmu ada dimana-mana.
Kau, dan kata-kata yang orang lain sebut cinta, yang tentukan…”

Lakiku,
Rumahku adalah kamu

Oktober 2014

Kopi Dengan Lima Sendok Garam

*merasakan kamu*

“Sialan!”

Entah pada siapa aku harus mengumpat. Apakah pada rasa rindu yang tak pernah mengetuk? Rindu yang tak punya etika, masuk tanpa permisi ke relung hatiku. Atau, sebenarnya aku mengumpat pada isi curhatmu?

Aku selalu membaca curhatmu, tentang pekerjaanmu, tentang keluargamu dan tentang kekasihmu yang selalu setia setiap saat seperti tag line salah satu merek pengharum ketiak di negeri ini.

Dan karena kekasihmu inilah, aku sulit merengkuh tubuh mungilmu yang sering kali kamu tampilkan dengan sosok kuat. Tapi kamu ternyata begitu rapuh. Dan karena kekasihmu ini juga, aku merasa kehidupan begitu brengsek.

Apakah pernah terpikir olehmu, bahwa aku lelah. Aku ingin curhat. Tapi aku hanyalah seorang bajingan dengan kehidupan yang begitu brengseknya di matamu. Kamu pasti akan mengolokku kalau aku curhat. Matamu pasti melirik genit dan tawamu akan meledak, seandainya kubeberkan semua yang ingin kucurhatkan.

Kamu dengan segala permasalahanmu, pasti merasakan lelah yang sangat, mungkin lelah yang sama denganku. Terkadang aku ingin sesekali menyuguhkan kopi untukmu, dengan membubuhi lima sendok garam tentunya. Agar kita bisa berpikir tak perlu lagi merasa lelah, kalau ternyata disuguhi secangkir kopi dengan lima sendok garam.

Apakah aku akan tega menyuguhkan kopi dengan lima sendok garam untukmu? Bahkan sekadar menemanimu makan agar lahap, makanan yang tidak aku suka akan kusantap habis.

Kamu, perempuan dengan mata yang menyimpan kegundahan, pernahkah terpikirkan olehmu pada setiap cerita tentang masalah keluargamu aku selalu merasa menjadi orang yang tidak berguna. Aku tidak bisa sekadar menulis kata-kata bijak untukmu. Aku hanya mampu mencoba bergurau denganmu, agar kesedihan dan kegundahan yang menyelimuti dirimu bagai awan kelabu bisa cepat pergi.

Kamu, perempuan yang selalu terlihat kuat dan riang, pernahkah terpikir olehmu kecemburuanku selalu meletup? Kecemburuan ketika mendengar ceritamu tentang kekasihmu, tentang teman-temanmu, bahkan tentang bosmu yang setiap hari bisa bertemu denganmu.

Apalah aku bagimu?

Dalam kesendirian, di warung kopi tempat biasa aku nongkrong, sambil membanting ringan gelas kopi ketiga, “Kelak kau akan tahu rasa apa yang selama ini mengusik di dalam hatiku.” Gemeretak bunyi gigiku, memendam rasa cinta.

“Saat kau tahu, mungkin aku tak lagi berada di sampingmu.”

Karena…
Aku lelah mengeja siang menjadi malam
Aku lelah bertemu senja tanpamu
Aku lelah mengusir rindu yang acap kali datang
Aku lelah berbenturan dengan cemburu

Percayalah…
Sepertinya waktu begitu dendam pada diriku.

Oktober 2014

Pujangga dan Sajak

Akan ada pujangga tanpa sajak
Akan ada pula pembual dengan syair
Semua yang datang dan pergi
Yang menangis dan tertawa

Manusia hanya satu dari kehidupan
Tapi kehidupan banyak dihabiskan oleh manusia
Yang tidak memahami
Yang memahami

Sajak ibarat sampah
Tapi sampah bukan sajak
Semua sudah menjadi ketetapan
Dan aku berdiri dengan kaki tak berpijak

Coba katakan
Apakah setiap pujangga itu sama ??
Jawabnya adalah
Benar

Pujangga,
Aku cemburu tapi juga rindu padamu
Sehari saja tak membaca syairmu, seperti kehilangan senja

Punjangga,
Apakah syairmu hanya untukku?
Jika puisi cintamu palsu,
Akan kucolok matamu…

November 2014

Membeli Duka Yang Sama

Kita pernah berbagi payung di kota yang penuh rindu pada senja yang dihujani air mata
Saat itu kita tersenyum menikmati pahitnya jamu kehidupan sambil menghitung tetesan air mata

“Bisakah kamu terus mengingatku nanti?” Pintamu
Aku hanya membalas dengan senyuman
Kemudian kita sepakat untuk membeli duka yang sama

Life is a song, Love is the lyrics

Ada 3 lagu yang selalu membuat sesek dan mewek….

‘A Thousand Years’ for Breaking Down part-1.” I’m not a vampire, even though I wish I was, but I tried to step into their love story.” Kata Christina Perri tentang lagu ini. Kekuatan cinta dan cinta yang tahan lama (I’ll love you for a thousand more, karena cuma vampir yang hidupnya ribuan tahun) menjadi latar belakang dari lagu ini.

How can I love when I’m afraid to fall, lirik lagu ini memang cantik. Khusus untuk mereka yang baru saja menemukan cinta. Ya….ketika cinta berada dipenghujung permulaan. Semua akan terasa indah dan akan mengumbar banyak janji-janji.

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more

Merupakan penggalan lirik lainnya. Bisa termasuk dalam kategori lebay. Tapi…nikmati saja cinta yang masih ada dipermulaan itu dengan segala janji-janji manisnya. Yang perlu diingat adalah, manis yang terlalu manis lama kelamaan akan menjadi pahit dan menyakitkan.

 

 

“You know when you forget why you loved someone? I was just thinking about how my entire body would just shiver if my ex touched me to say hello. It’s sad when you can’t remember why you loved someone.”

Ada pertemuan dan ada perpisahan, bagaimanapun bentuk dari perpisahan itu sendiri. Tapi…apa yang disesali dari perpisahan? Ya…penyesalan dari perpisahan adalah pertemuannya.

My heart wanted to see him, my head knew better. 

Melogikakan patah hati, sulit!! What is done is done!!! What is enough is enough!! Bagaimana bisa kembali menapaki jalan yang pernah terputus? Tapi hidup harus terus berjalan dan terkadang semua bisa berjalan baik-baik saja tanpa perlu cinta dari pasangan.

Quotes of Heart

Funny quotes, Inspirational quotes, Life quotes, Love quotes, quotes, Wise quotes,  (568)

 

tumblr_ly8vpswI9P1qajjdco1_500

 

a-quote-best-quote-best-quotes-english-Favim.com-517249

 

Life-Quotes-TumblrLove_Life_Quotes_tumblr

 

meeting-you-met-fate-love-quote

 

 

1061_1c599fcd2e6204d8ab6be8b2d802055a

 

912_07019bace9c9ca0d36e0686936be1812

 

 

love-quotes-for-boyfriend-him-sayings-short

 

tumblr_m7vz2awzUH1rya2qqo1_500

 

love-quotes-for-him-tumblr-7911

 

short-quotes

 

short-cute-love-quotes-tumblr-i2_large_large

 

data.whicdn.com-images-26980960-cheesy-love-quotes-tumblr-i16_large

 

tumblr_m9mcwh4Sin1qcq8cwo1_500

 

quotes-famous-funny-love-inspirational-sayings-short_4931585522795198

 

good-short-quotes-about-love-and-relationships-e1351433840637

 

tumblr_mj9xoafVDD1r1vk06o1_500

 

short-love-quotes-for-her-fight-for-me

 

1179_68f73fde5a607110544e832ed39be5b2

 

 

ketika jemari ini sudah lelah merangkai kata demi kata, ketika mulut ini hanya bisa terbungkam menahan ucapan, hati terus berontak ingin mengungkap rasa….

Sajak Selendang

Seperti hujan merindu turun ke bumi
Dirimu selalu kuingin berada di sisi
Setelah pelangi tiada kau selendangkan
Lalu kenangan mengajakku mabuk

Mungkin hati telah buta
Atau jiwa terlalu gelap karena berjuta alpa
Semoga tiada lagi bidadari
Menyulam pelangi untuk kau selendangkan

Betapa aku ingin mengembara dalam waktu
Menjelajahi sebuah kota yang gersang
Lalu menjelma menjadi Lentera yang menempel di dinding
Sembari bersemayam di pelukmu

Lihatlah…. selendang pemberianmu
Duduklah di sampingku
Sembari bersama membaca ribuan buku
Sebab pada waktunya,
Mungkin kau harus pulang

Lalu akan kutulis ribuan sajak sebelum kau pulang
Pada serpihan sajakku tentang kota ini,
Titipkan untukku sebuah senyuman yang sesepoi angin
Sebab untuk mengembalikan selendangmu aku enggan

Atau…
bawalah serta selandang berisi sajak-sajaku